Minggu, 10 Mei 2015

Model Penilaian Portofolio




Bab 8
Model Penilaian Portofolio
Para pakar pendidikan dan psikologi di Indonesia banyak memberikan pandangan dan analisisnya terhadap mutu pendidikan, tetapi hingga saat ini tidak pernah tuntas, bahkan muncul masalah-masalah pendidikan yang baru. Masalah mutu pendidikan yang banyak dibicarakan adalah rendahnya hasil belajar peserta didik. Padahal kita tahu, bahwa hasil belajar banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain sikap dan kebiasaan belajar, fasilitas belajar motivasi, minat, bakat, pergaulan, lingkungan keluarga, dan yang tak kalah pentingnya adalah kemampuan profesional guru dalam melakukan penilaian hasil belajar itu sendiri.
Menyinggung tentang kemampuan profesional guru dalam melakukan penilaian proses dan hasil belajaa memang masih sangat kurang. Kebanyakan guru melakukan penilaian lebih menekankan pada hasil belajar, sedangkan proses belajar kurang diperhatikan bahkan cenderung diabaikan. Padahal, proses belajar sangat menentukan hasil belajar. Di samping itu, guru-guru juga terbiasa dengan kegiatan-kegiatan penilaian rutin yang sifatnya praktis dan ekonomis sehingga tidak heran jika guru banyak menggunakan soal yang sama dari tahun ke tahun. Hal ini sudah dialami oleh mereka (guru) sejak mulai bekerja sebagai guru sampai sekarang. Sebenarnya, guru pun sering mengikuti pelatihan tentang evaluasi pembelajaran atau penilaian hasil belaiar, tetapi setelah pelatihan, mereka tetap kembali ke habitatnya semula, yaitu memberikan tes tertulis, baik dalam formatif maupun sumatif, tanpa melakukan variasi, perbaikan, penyempurnaan atau inovasi dalam pelaksanaan penilaian.
Mengingat cara-cara penilaian selama ini terdapat banyak kelemahan, maka sejak diberlakukannya Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004, diperkenalkan suatu konsep penilaian baru yang disebut "penilaian berbasis kelas" (classroom-based assessmenf) dengan salah satu model atau pendekatannya adalah "penilaian berbasis portofolio" (portfolio-based assessment), yaitu suatu model penilaian yang dilakukan secara sistematis dan logis untuk mengungkapkan dan menilai peserta didik secara komprehensif, objektif, akurat, dan sesuai dengan bukti-bukti autentik (dokumen) yang dimiliki peserta didik. Implikasi pemberlakuan Kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi) yang disempurnakan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 terhadap pola penilaian pembelajaran di sekolah adalah:
Pertama, guru dan kepala sekolah harus berperan sebagai pembuat keputusan (decision maker) dalam perencanaan dan pelaksanaan kurikulum, termasuk proses pembelajaran.
Kedua, guru harus menyusun silabus yang menjamin terlaksananya proses pembelajaran yang terarah dan bermakna.
Ketiga, guru harus melakukan continous-authentic assessment yang menjamin ketuntasan belajar dan pencapaian kompetensi peserta didik.

A. Dasar Pemikiran
Penilaian portofolio sebagai suatu penilaian model baru yang diterapkan di Indonesia sejak kurikulum 2004 tentu mempunyai maksud dan tujuan tertentu, yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Hal ini memang wajar dan logis karena selama ini sistem penilaian yang digunakan di sekolah cenderung hanya melihat hasil belajar peserta didik dan mengabaikan proses belajarnya, sehingga nilai akhir yang dilaporkan kepada orang tua dan pihak-pihak terkait hanya menyangkut domain kognitif. Sikap, minat, motivasi dan keterampilan proses lainnya nyaris tidak pernah disentuh. Portofolio sebagai salah satu bentuk penilaian berbasis kelas mempunyai fungsi dan peran yang sangat strategis untuk menutupi kelemahan penilaian yang telah dilakukan selama ini. Oleh sebab itu, penilaian portofolio harus dilakukan secara akurat dan objektif serta mendasar pada bukti-bukti autentik yang dimiliki oleh peserta didik. Perhatikan ilustrasi berikut ini.
Orang tua peserta didik A datang ke suatu sekolah untuk menanyakan perkembangan prestasi belajar anaknya. Dia langsung menemui kepala sekolah. Ketika orang tua tersebut menanyakan tentang perkembangan prestasi belajar anaknya, ternyata kepala sekolah tidak bisa memberikan jawaban yang jelas. Dia langsung memanggil wali kelas dan salah seorang guru untuk menjelaskan secara terperinci tentang hal tersebut. Ternyata, wali kelas dan guru itu pun hanya memberikan jawaban yang bersifat umum, seperti cukup baik, sedang-sedang saja dan sebagainya. Orang tua tersebut merasa tidak puas dan kecewa. Dia berharap wali kelas dan guru dapat memberikan jawaban yang konkret, akurat dan faktual. Dia pulang dengan membawa seribu pertanyaan. Mengapa kepala sekolah, wali kelas dan guru tidak dapat menjelaskan perkembangan prestasi belajar anaknya secara?
Di sekolah lain, ada juga orang tua peserta didik yang menanyakan prestasi belajar anaknya. Dia dilayani langsung oleh setiap guru mata pelajaran di ruang guru. Setelah orang tua tersebut menyebutkan identitas putranya, kemudian guru langsung mencari file-nya. Betapa gembiranya orang tua tersebut ketika melihat bukti-bukti autentik hasil pekerjaan anaknya. Ternyata, semua hal yang telah dilakukan oleh anaknya didokumentasikan oleh guru dalam file khusus, baik itu hasil ulangan harian, hasil kunjungan/observasi, hasil diskusi kelompok, hasil menggambar maupun kegiatan keterampilan lainnya.
Dari ilustrasi pertama menunjukkan bahwa kemungkinan besar guru guru di sekolah tersebut masih menggunakan model penilaian konvensional. Hal ini dapat diketahui karena guru tidak dapat memberikan gambaran tentang hasil belajar peserta didik secara terperinci dan komprehensif, sehingga membuat orang tua peserta didik kecewa. Tidak ada bukti-bukti fisik sebagai hasil belajar peserta didik yang dapat dilaporkan kepada orang tua. Pada ilustrasi kedua, nampaknya guru sudah menggunakan penilaian portofolio, sehingga dia dapat memberikan penjelasan tentang perkembangan prestasi belajar kepada orang tua peserta didik secara gamblang dan menyeluruh. Hal lain yang dapat kita pelajari dari ilustrasi kedua di atas adalah kapan saja orang tua peserta didik atau peserta didik itu sendiri ingin mengetahui perkembangan prestasi belajarnya, maka guru dapat dengan mudah dan cepat memberikan penjelasan berikut bukti-bukti autentiknya.
Di banyak negara maju, penggunaan tes sebagai salah satu alat penilaian setahap demi setahap sudah mulai ditinggalkan, karena ternyata masih banyak guru yang kurang memahami konsep dan strategi penilaian, baik dalam tahap perencanaan, pelaksanaan maupun laporan hasil penilaian. Di samping itu, realitas juga menunjukkan banyak guru yang tidak memiliki latar belakang pendidikan keguruan dan tentunya mereka tidak pernah belajar tentang evaluasi pembelajaran atau penilaian proses dan hasil belajar. Zainal Arifin (2006) dalam salah satu kesimpulan penelitiannya mengemukakan, "konsep guru tentang evaluasi pada dasarnya merupakan manifestasi dari kebiasaan dan pengalaman praktiknya selama ini, yaitu memberikan nilai (angka) dalam pelajaran...." Konsep yang dimaksud hanya menyentuh dimensi produk dari kegiatan evaluasi itu sendiri, belum masuk ke dalam suatu dimensi proses yang sistematis dan kontinu serta sebagai feed-bac& terhadap sistem pembelajaran. Di samping itu, guru masih menganggap kegiatan penilaian identik dengan memberi angka. Dalam praktiknya, guru-guru juga banyak yang menggunakan tes buatan orang lain atau juga dari kumpulan soal yang notabene belum diketahui derajat validitas dan reliabilitasnya. Tes tersebut digunakan guru dari waktu ke waktu.
Fenomena di atas menunjukkan kepada kita bahwa itulah salah satu kelemahan tes tertulis. Oleh sebab itu, tidak bisa ditawar lagi, guru harus mengubah sikap, kebiasaan dan pandangannya tentang evaluasi atau penilaian. sudah saatnya guru berkiblat dengan pendekatan dan model penilaian yang lebih modern, seperti penilaian penampilan, penilaian autentik, dan penilaian portofolio. Guru harus mencari strategi yang jitu untuk menilai peserta didik sesuai dengan kemampuannya yang sesungguhnya. Di Indonesia, penilaian portofolio sudah banyak digunakan dalam berbagai bidang pendidikan, seperti sertifikasi guru. Apa, mengapa dan bagaimana menggunakan portofolio dalam proses pembelajaran? Untuk itu, ikutilah uraian berikut ini.

B. Pengertian Penilalan Portofolio
Istilah portofolio (portfolio) pertama kali digunakan oleh kalangan potografer dan artis. Melalui portofolio, para potografer dapat memperlihatkan prospektif pekerjaan mereka kepada pelanggan dengan menunjukkan koleksi pekerjaan yang dimilikinya. Secara umum, portofolio merupakan kumpulan dokumen berupa objek penilaian yang dipakai oleh seseorang, kelompok, lembaga, organisasi atau perusahaan yang bertujuan untuk mendokumentasikan dan menilai perkembangan suatu proses. Dalam dunia usaha, portofolio banyak digunakan untuk menilai keefektifan suatu proses produksi dari jenis produk tertentu. Dalam dunia kesehatan, portofolio dapat dilihat dari Kartu Menuju sehat (KMS) yang digunakan untuk memantau perkembangan pertumbuhan bayi dari 0 tahun sampai usia tertentu.
Dalam dunia pendidikan, portofolio dapat digunakan guru untuk melihat perkembangan peserta didik dari waktu ke waktu berdasarkan kumpulan hasil karya sebagai bukti dari suatu kegiatan pembelajaran. Portofolio juga dapat dipandang sebagai suatu proses sosial pedagogis, yaitu sebagai collection of learning expefience yang terdapat di dalam pikiran peserta didik, baik yang berwujud pengetahuan (cognitive), keterampilan (psychomotor) maupun sikap dan nilai (affective). Artinya, portofolio bukan hanya berupa benda nyata, melainkan mencakup "segala pengalaman batiniah" yrrrg terjadi pada diri peserta didik. portofolio juga dapat digunakan oleh peserta didik untuk mengumpulkan semua dokumen dari ilmu pengetahuan yang telah dipelajari, baik di kelas, di halaman sekolah atau di luar sekolah. Dalam bidang bahasa, portofolio dapat merupakan suatu adjective yang sering disandingkan dengan konsep lain, seperti pembelajaran dan penilaian, karena itu timbul istilah portfolio-based instruction dan portfolio-based assessment.
Menurut para ahli, portofolio memiliki beberapa pengertian. Ada yang memandang sebagai benda/alat, dan ada pula yang memandang sebagai metode/teknik/cara. Portofolio sebagai suatu wujud benda fisik, atau kumpulan suatu hasil (bukti) dari suatu kegiatan, atau bundelan, yakni kumpulan dokumentasi atau hasil pekerjaan peserta didik yang disimpan dalam suatu bundel. Misalnya, bundelan hasil kerja peserta didik mulai dari tes awal, tugas-tugas, catatan anekdot, piagam penghargaan, keterangan melaksanakan tugas terstruktur, sampai pada tes akhir. Portofolio ini merupakan kumpulan karya terpilih dari peserta didik, baik perseorangan maupun kelompok. Istilah karya terpilih menunjukkan bahwa tidak semua karya peserta didik dapat dimasukkan ke dalam portofolio tersebut. Karya yang diambil adalah karya terbaik, karya yang paling penting dari pekerjaan peserta didik, yang bermakna bagi peserta didik, sesuai dengan tuiuan pembelajaran atau kompetensi yang telah ditetapkan.
Penilaian portofolio berbeda dengan jenis penilaian yang lain. Penilaian portofolio adalah suatu pendekatan atau model penilaian yang bertujuan untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam membangun dan merefleksi suatu pekerjaan/tugas atau karya melalui pengumpulan (collection) bahan-bahan yang relevan dengan tujuan dan keinginan yang dibangun oleh peserta didik, sehingga hasil pekeriaan tersebut dapat dinilai dan dikomentari oleh gum dalam periode tertentu. Jadi, penilaian portofolio merupakan suatu pendekatan dalam penilaian kinerja peserta didik atau digunakan untuk menilai kinerja.
Salah satu keunggulan penilaian portofolio adalah memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk lebih banyak terlibat, dan peserta didik sendiri dapat dengan mudah mengontrol sejauh mana perkembangan kemampuan yang telah diperolehnya. Jadi, peserta didik akan mampu melakukan penilaian diri (self-assessment). Keterampilan menemukan kelebihan dan kekurangannya sendiri, serta kemampuan untuk menggunakan kelebihan tersebut dalam mengatasi kelemahannya merupakan modal dasar penting dalam proses pembelajaran.
Popham (1994) menjelaskan, "penilaian portofolio merupakan penilaian secara berkesinambungan dengan metode pengumpulan informasi atau data secara sistematik atas hasil pekerjaan peserta didik dalam kurun waktu tertentu." Dalam sistem penilaian portofolio, guru membuat fiIe untuk tiap-tiap peserta didik, berisi kumpulan sistematis atas hasil prestasi belajar mereka selama mengikuti proses pembelajaran.
Di dalam fiIe portofolio, guru mengumpulkan bukti fisik dan catatan prestasi peserta didik, seperti hasil ulangan, hasil tugas mandiri, serta hasil praktikum. Selain prestasi akademik, isi fiIe juga dapat dielaborasi dengan lembar catatan prestasi nonakademik, yakni rekaman profile peserta didik yang meliputi aspek kerajinan, kerapian, ketertiban, kejujuran, kemampuan kerja sama, sikap, solidaritas, toleransi, kedisiplinan, prestasi olahraga, kesenian, kepramukaan, dan lain-lain.
Data yang terkumpul dari waktu ke waktu ini kemudian digunakan oleh guru untuk menilai dan melihat perkembangan kemampuan serta prestasi akademik peserta didik dalam periode tersebut. File portofolio sekaligus akan memberikan umpan balik (feed back), baik kepada guru maupun kepada peserta didik. Bagi guru, file yang berisi prestasi peserta didik ini akan memberikan masukan (input) untuk penilaian proses, terutama dalam memperbaiki strategi, metode dan manajemen pembelajaran di kelas. Melalui analisis file portofolio, guru dapat mengetahui potensi, karakter, kelebihan, dan kekurangan peserta didik. Bagi peserta didik, file ini dapat menjadi dasar pijakan untuk mengoreksi dan memperbaiki kelemahan atau kekurangannya dalam proses pembelajaran maupun penguasaannya tentang suatu pokok bahasan atau materi pelajaran tertentu.
Proses terjadinya umpan balik sangat dimungkinkan, karena dalam sistem penilaian portofolio, data yang terekam dalam file tidak hanya dikumpulkan saja kemudian selesai, tetapi akan dianalisis secara kolaboratif dengan melibatkan guru, peserta didik, dan orang tua. Penilaian data melalui pembicaraan secara periodik dengan orang tua peserta didik merupakan progress report yang akurat tentang kemajuan prestasi belajar peserta didik serta perkembangan kepribadiannya.
Selain dapat dipergunakan untuk memantau perkembangan peserta didik dan mendiagnosis kesulitan belajar mereka, penilaian portofolio juga sangat bermanfaat bagi guru untuk menilai kebutuhan (need), minat (interest), kemampuan akademik (abilities), dan karakteristik peserta didik secara perorangan. Hal tersebut penting, karena seharusnya dalam suatu sistem penilaian, eksistensi peserta didik secara perorangan tidak boleh dieliminasikan sebagaimana yang sering terjadi dalam tes standar seperti SNM-PTN dan UAS-BN.

C. Tujuan dan Fungsi Penilaian Portofolio
Penilaian portofolio dapat digunakan sebagai alat formatif maupun sumatif. Portofolio sebagai alat formatif digunakan untuk memantau kemajuan peserta didik dari hari ke hari dan mendorong peserta didik dalam merefleksi pembelajaran mereka sendiri. Portofolio seperti ini difokuskan pada proses perkembangan peserta didik dan digunakan untuk tujuan formatif dan diagnostik. Penilaian portofolio ditujukan juga untuk penilaian sumatif pada akhir semester atau akhir tahun pelajaran. Hasil penilaian portofolio sebagai alat sumatif ini dapat digunakan untuk mengisi angka rapor peserta didik, yang menunjukkan prestasi peserta didik dalam mata pelajaran tertentu.
1. Tujuan Penilaian Portofolio
Pada hakikatnya tujuan penilaian portofolio adalah untuk memberikan informasi kepada orang tua tentang perkembangan peserta didik secara lengkap dengan dukungan data dan dokumen yang akurat. Rapor merupakan bentuk laporan prestasi pesefta didik dalam belajar dalam kurun waktu tertentu. Portofolio merupakan lampiran dari rapoq, dengan demikian rapor tetap harus dibuat.
Gambar 8.1 Tujuan Penilaian Portofolio
Tujuan portofolio ditentukan oleh apa yang harus dikerjakan dan siapa yang akan menggunakan penilaian tersebut. Dalam portofolio banyak digunakan tes tertulis (paper and pencil test), project, product, dan catatan kemampuan (records of performance).               S. Surapranata dan M. Hatta (2004) mengemukakan penilaian portofolio dapat digunakan untuk mencapai beberapa tujuan, yaitu "menghargai perkembangan yang dialami peserta didik, mendokumentasikan proses pembelajaran yang berlangsung, memberi perhatian pada prestasi kerja peserta didik yang terbaik, merefleksikan kesanggupan mengambil risiko dan melakukan eksperimentasi, meningkatkan efektivitas proses pengajaran, bertukar informasi dengan orang tua/wali peserta didik dan guru lain, membina dan mempercepat pertumbuhan konsep diri positif pada peserta didik, meningkatkan kemampuan melakukan refleksi diri, membantu peserta didik dalam merumuskan tujuan".

2. Fungsi Penliaian Portofolio
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa portofolio merupakan kumpulan karya peserta didik yang disimpan dalam sebuah file. Namun, bukan berarti portofolio hanya merupakan tempat penyimpanan hasil pekerjaan peserta didik melainkan juga sebagai sumber informasi bagi guru, orang tua, dan peserta didik itu sendiri. Portofolio dapat dijadikan sebagai bahan tindak lanjut dari suatu pekerjaan yang telah dilakukan peserta didik sehingga guru dan orang tua mempunyai kesempatan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Fungsi penilaian portofblio dapat kita lihat dari berbagai segi, yaitu :
a.  Portofolio sebagai sumber informasi bagi guru dan orang tua untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan kemampuan peserta didik, tanggung jawab dalam belajaS, perluasan dimensi belajar, dan inovasi pembelajaran.
b.  Portofolio sebagai alat pembelajaran merupakan komponen kurikulum, karena portofolio mengharuskan peserta didik untuk mengoleksi dan menunjukkan hasil kerja mereka.
c.   Portofolio sebagai alat penilaian autentik (authentic assessment).
d.  Portofolio sebagai sumber informasi bagi peserta didik untuk melakukan self-assessment. Maksudnya, peserta didik mempunyai kesempatan yang banyak untuk menilai diri sendiri dari waktu ke waktu.
Gambar 8.2 Fungsi Penilaian Portofolio
Selanjutnya, Direktorat PLP-Ditjen Dikdasmen-Depdiknas (2003) mengemukakan bahwa penilaian portofolio dapat digunakan untuk: (a) memperlihatkan perkembangan pemikiran atau pemahaman siswa pada periode waktu tertentu, (b) menunjukkan suatu pemahaman dari beberapa konsep, topik, dan isu yang diberikan, (c) mendemonstrasikan perbedaan bakat (d) mendemonstrasikan kemampuan untuk memproduksi atau mengkreasi suatri pekerjaan baru secara orisinal, (e) mendokumentasikan kegiatan selama periode waktu tertentu, (f) mendemonstrasikan kemampuan menampilkan suatu karya seni, (g) mendemonstrasikan kemampuan mengintegrasikan teori dan praktik, dan (h) merefleksikan nilai-nilai individual atau pandangan dunia secara lebih luas.
D. PrlnsipPrlnslp Penilaian Portofollo
Proses penilaian portofolio menuntut terjadinya interaksi multiarah, yaitu dari guru ke peserta didik, dari peserta didik ke guru, dan antarpeserta didik. Direktorat PLP Ditjen Dikdasmen Depdiknas (2003) mengemukakan pelaksanaan penilaian portofolio hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip "mutual trust, confidentiality, joint ownership, satisfaction, and relevance".
Gambar 8.3 Prinsip-Prinsip Penilaian Portofolio

1.  Mutual trust (saling mempercayai), artinya jangan ada saling mencurigai antara guru dengan peserta didik maupun antarpeserta didik. Mereka harus sama-sama saling percaya, saling membutuhkan, saling membantu, terbuka, jujuq, dan adil sehingga dapat membangun suasana penilaian yang lebih kondusif. Guru juga hendaknya dapat menciptakan suasana penilaian yang kondusif, wajar dan alami sehingga hasil penilaian yang diperoleh betul-betul menggambarkan kemampuan peserta didik yang sesungguhnya.
2.  Confidentiality (kerahasiaan bersama), artinya guru harus menjaga kerahasiaan semua hasil pekerjaan peserta didik dan dokumen yang ada, baik perseorangan maupun kelompok, tidak boleh diberikan atau diperlihatkan kepada siapa pun sebelum diadakan pameran. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik yang mempunyai kelemahan tidak merasa dipermalukan. Menjaga kerahasiaan bersama ini juga mempunyai arti lain, yaitu memotivasi peseta didik untukmemperbaiki hasil pekerjaannya dan meningkatkan kepercayaanpeserta didik kepada guru.
3.  Joint Ownership (milik bersama), artinya semua hasil pekerjaan peserta didik dan dokumen yang ada harus menjadi milik bersama antara guru dan peserta didik karena itu harus dijaga bersama, baik penyimpanannya maupun penempatannya. Berikan kemudahan kepada peserta didik untuk melihat, menyimpan, dan mengambil kembali portofolio mereka. Hal ini dimaksudkan juga untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab peserta didik.
4.  Satisfaction (kepuasan), artinya semua dokumen dalam rangka pencapaian standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator harus dapat memuaskan semua pihak, baik guru, orang tua maupun peserta didik, karena dokumen tersebut merupakan bukti karya terbaik peserta didik sebagai hasil pembinaan guru.
5.  Relevance (kesesuaian), artinya dokumen yang ada harus sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator yang diharapkan. Kesesuaian ini pada gilirannya berkaitan dengan prinsip kepuasan.
Di samping prinsip-prinsip tersebut di atas, S.Surapranata dan M.Hatta (2OO4) menambahkan tiga prinsip, yaitu "penciptaan budaya mengajar, refleksi bersama, serta proses dan hasil". Penilaian portofolio hanya dapat dilakukan jika pembelajarannya pun menggunakan pendekatan portofolio. Artinya, jika guru dalam pembelajaran hanya menuntut peserta didik untuk menghafal pengetahuan atau fakta pada tingkat rendah, maka penilaian portofolio tidak akan bermakna. Penilaian portofolio akan efektif jika pembelajarannya menuntut peserta didik untuk menunjukkan kemampuan yang nyata dan menggambarkan pengembangan aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai pada taraf yang lebih tinggi.
Prinsip penilaian portofolio yang lain adalah memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan refleksi bersama-sama. Peserta didik dapat merefleksikan tentang proses berpikir mereka sendiri, kemampuan pemahaman mereka sendiri, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan. Tidak hanya itu, penilaian portofolio juga harus diarahkan untuk menilai proses belajar peserta didik, seperti catatan perilaku harian, sikap dan motivasi belajar, antusias tidaknya dalam mengikuti pelajaran, baik dalam kegiatan belajar kelompok maupun individual. Bukan hanya proses belajaa tetapi juga harus menilai hasil akhir suatu tugas yang diberikan oleh guru.

E. Karakterlstlk Penllalan Portofolio
Sebagaimana telah penulis kemukakan bahwa penilaian portofolio dilakukan sesuai dengan kegiatan pembelajaran yang berbasis portofolio (portfolio-based instruction). Kalau guru menggunakan model pembelajaran tradisional, tentu guru akan kesulitan melakukan penilaian portofolio, terutama dalam mengembangkan instrumen penilaiannya. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran portofolio tidak hanya terjadi di dalam kelas, tetapi juga di luar kelas. Implikasinya adalah bahwa hasil pekerjaan peserta didik yang dinilai melalui penilaian portofolio adalah hasil pekerjaan peserta didik yang dilakukan baik di kelas maupun di luar kelas sesuai dengan tuntutan kompetensi dasarnya, tidak hanya dalam dimensi proses, tetapi juga dimensi produk.
Di samping itu, melalui penilaian portofolio, peserta didik dapat memantau perkembangan kemampuannya secara mandiri, menunjukkan cara belajar yang berbeda antara seorang peserta didik dengan peserta didik lainnya, menunjukkan kualitas hasil pekerjaannya, menunjukkan kelebihan yang mereka miliki, mengembangkan kemampuan bersosialisasi, dan memotivasi dirinya untuk lebih giat melakukan kegiatan belajar, memberikan peluang yang besar bagi peserta didik untuk melakukan dialog dengan guru dan orang tuanya secara intensif tentang kelebihan dan kekurangannya.
Menurut Barton dan Collins dalam S.Surapranata dan M.Hatta (2004) terdapat beberapa karakteristik esensial penilaian portofolio, yaitu multisumber, autentik, dinamis, eksplisit, integrasi, kepemilikan, dan beragam tujuan.


Gambar 8.4 Karakteristik Penilaian Portofolio

Multisumber dimaksudkan bahwa pelaksanaan penilaian portofolio harus dilakukan dari berbagai sumber, seperti peserta didik, guru, orang tua, masyarakat, dan evidence lainnya, seperti gambar, lukisan, jurnal, audio, dan video tape, baik secara tertulis maupun tindakan. Evidence yang dimaksud haruslah autentik dan berhubungan dengan program pembelajaran, kegiatan, standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator yang hendak dicapai. Misalnya, jika guru ingin mengetahui kemampuan peserta didik tentang keterampilan komputer, maka guru harus menilai secara langsung setiap peserta didik dalam menggunakan komputer, bukan dengan cara memberi tes tertulis tentang pengetahuan komputer. Begitu juga, ketika guru ingin mengetahui kemampuan peserta didik dalam melaksanakan Senam Kesehatan Jasmani, tentunya guru harus melihat secara langsung bagaimana peserta didik menunjukkan atau mempraktikkan gerakan-gerakan Senam Kesehatan Jasmani, bukan memberikan tes tertulis tentang cara-cara melaksanakan Senam Kesehatan Jasmani.
Di samping itu, penilaian portofolio menuntut adanya pertumbuhan dan perkembangan dari setiap peserta didik. oleh sebab itu, sebaiknya setiap evidence dari waktu ke waktu harus dikumpulkan dan didokumentasikan. Seandainya evidence tersebut akan dipilih, maka pilihlah secara selektif. Penilaian portofolio juga harus jelas, baik jenis, teknik, prosedur maupun kompetensi yang akan diukur. Kejelasan yang dimaksud bukan hanya untuk guru, tetapi juga peserta didik. Dalam pelaksanaannya, antara kegiatan peserta didik di kelas dengan kehidupan nyata haruslah terintegrasi. Artinya, penilaian portofolio tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari sehingga peserta didik tidak jauh dari apa yang mereka alami. Peserta didik juga dapat dengan mudah mengaitkan antara kemampuan yang diperolehnya dengan kenyataan sehari-hari.
Hal yang sangat penting dalam penilaian portofolio adalah adanya rasa memiliki bagi setiap peserta didik terhadap semua evidence yang dikumpulkan guru, sehingga peserta didik dapat menjaga dengan baik semua evidence. Pelaksanaan penilaian portofolio bukan hanya mengacu pada kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik, tetapi juga tujuan-tujuan lain yang bermanfaat bagi program pembelajaran, seperti keefektifan program, perkembangan peserta didik, dan dapat dijadikan alat komunikasi peserta didik ke berbagai pihak yang berkepentingan.
F. Kelebihan dan Kekurangan penilaian portofolio
Setiap konsep atau model penilaian tentu ada kelebihan dan kekurangannya. Begitu juga dengan moder penilaian portofolio. Kelebihan model penilaian portofolio, antara rain sebagai berikut.
1.     Dapat melihat pertumbuhan dan perkembangan kemampuan peserta didik dari waktu ke waktu berdasarkan feed-backdan refleksi diri.
2.     Membantu guru melakukan penilaian secara adil, objektif, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan tanpa mengurangi kreativitas peserta didik di kelas.
3.     Mengajak peserta didik untuk belajar bertanggung jawab terhadap apa yang telah mereka kerjakan, baik di kelas maupun di luar kelas dalam rangka implementasi program pembelajaran.
4.     Meningkatkan peran serta peserta didik secara aktif dalam pembelajaran dan penilaian. Kegiatan.
5.     Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk meningkatkan kemampuan mereka.
6.     Membantu guru mengkrarifikasi dan mengidentifikasi program pembelajaran.
7.     Terlibatnva berbagai pihak, seperti orang tua, guru, komite sekolah, dan masyarakat lainnya daral melihat pencapaian kemampuan peserta didik.
8.     Memungkinkan peserta didik merakukan penilaian diri (self_assessment), refleksi, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis (critical thinking).
9.     Memungkinkan guru merakukan penilaian secara fleksibel, tetapi tetap mengacu pada kompetensi dasar dan indikator hasir berajar yang ditentukan.
10.   Guru dan peserta didik sama-sama bertanggung jawab untuk merancang dan menilai kemajuan belajar.
11.   Dapat digunakan untuk menilai kelas yang heterogen antara peserta didik yang pandai dan kurang pandai.
12.   Memungkinkan guru memberikan hadiah terhadap setiap usaha belajar peserta didik. Adapun kekurangan penilaian portofolio, antara Iain sebagai berikut.
1.     Membutuhkan waktu dan kerja ekstra.
2.     Penilaian portoforio dianggap kurang reliabel dibandingkan dengan bentuk penilaian yang lain.
3.     Ada kecenderungan guru hanya memperhatikan pencapaian akhir sehingga proses. penilaian kurang mendapat perhatian.
4.     Jika guru melaksanakan proses pembelajaran yang bersifat teacher-oriented, kemungkinan besar inisiatif dan kreativitas peserta didik akan terbelenggu sehingga penilaian portoforio tidak dapat dilaksanakan dengan baik.
5.     orang tua peserta didik sering berpikir skeptis karena raporan hasil belajar anaknya tidak berbentuk angka
6.     Penilaian portofolio masih relatif baru sehingga banyak guru, orang tua dan peserta didik yang belum mengetahui dan memahaminya.
7.     Tidak tersedianya kriteria penilaian yang jelas.
8.     Analisis terhadap penilaian portorotio agak sulit dilakukan sebagai akibat dikuranginya penggunaan angka.
9.     Sulit dilakukan terutama menghadapi ujian dalam skala nasional.
10.   Dapat menjebak peserta didik jika terlalu sering menggunakan format yang lengkap dan detail.
G. Jenis Penilaian portofolio
Jenis penilaian portofolio akan memberikan pemahaman tentang perlunya penggunaan penilaian portofolio secara bervariasi sesuai dengan jenis kegiatan belaiar yang-dilakukan peserta didik. Artinya, hasil berajar peserta didik tidak dapat diukur hanya dengan satu jenis penilaian saja melainkan harus menggunakan berbagai jenis penilaian. Di samping itu, setiap jenis portofolio mempunvai instrumen yang berbeda. Dengan demikian, guru harus memiliki kecakapan khusus bagaimana mengembangkan berbagai instrumen dalam setiap jenis penilaian portofolio. Tahapan penilaian portofolio akan memberikan pemahaman kepada guru bahwa penilaian portofolio tidak dapat dilakukan secara sembarangan, tetapi harus sistematis, bertahap, dan rasional sesuai dengan tahap-tahap yang telah ditetapkan. Banyak guru yang salah melaksanakan penilaian portofolio karena tidak memahami prosedur yang harus ditempuh.Akibatnya, peserta didik dapat dirugikan.
Apabila dilihat dari jumlah peserta didik, maka penilaian portofolio dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu portofolio perseorangan dan portofolio kelompok. Jika dilihat dari sistem, portofolio dapat dibagi dua jenis, yaitu portofolio proses dan portofolio produk.


Gambar 8.5 Jenis Penilaian Portofolio
Portofolio perseorangan merupakan kumpulan hasil kerja peserta didik secara perseorangan, dan portofolio kelompok merupakan kumpulan hasil karya sekelompok peserta didik atau kelas tertentu.
1. Portofolio Proses
Jenis portofolio proses menunjukkan tahapan belajar dan menyajikan catatan perkembangan peserta didik dari waktu ke waktu. Portofolio proses menunjukkan kegiatan pembelajaran untuk mencapai standar kompetensi, kompetensi dasar, dan sekumpulan indikator yang telah ditetapkan dalam kurikulum, serta menunjukkan semua hasil dari awal sampai dengan akhir selama kurun waktu tertentu. Tujuan menggunakan portofolio proses adalah untuk membantu peserta didik mengidentifikasi tujuan pembelajaran, perkembangan hasil belajar dari waktu ke waktu, dan menunjukkan pencapaian hasil belajar. Pendekatan ini lebih menekankan pada bagaimana peserta didik belajar; berkreasi, termasuk mulai dari draft awal, bagaimana proses awal itu terjadi, dan tentunya sepanjang peserta didik dinilai.
Dalam portofolio proses, guru dapat menyajikan berbagai macam tugas yang setara atau yang berbeda kepada peserta didik. Dengan kata lain, peserta didik boleh memilih tugas-tugas yang dianggapnya cocok untuk mereka. Guru juga dapat memutuskan apa yang harus dikerjakan peserta didik atau peserta didik diajak bekerja sama dengan peserta didik lain dalam mengerjakan tugas tertentu. Biasanya, portofolio proses digunakan untuk melihat proses pembuatan suatu karya atau suatu pekerjaan yang menuntut adanya proses diskusi antara peserta didik dengan guru atau sesama peserta didik. Berdasarkan proses kegiatan tersebut, guru dapat membantu peserta didik untuk mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya.
Salah satu bentuk portofolio proses adalah portofolio kerja (working portfolio), yaitu bentuk yang digunakan untuk memilih koleksi evidence peserta didik, memantau kemajuan atau perkembangan, dan menilai peserta didik dalam mengelola kegiatan belajar mereka sendiri. Peserta didik mengumpulkan semua hasil kerja termasuk coretan-coretan (sketsa), buram, catatan, kumpulan untuk rangsangan, buram setengah jadi, dan pekerjaan yang sudah selesai. Portofolio kerja bermanfaat bagi peserta didik terutama untuk memberikan informasi tentang bagaimana mengorganisasikan dan mengelola kerja, merefleksi dari pencapaiannya, memantau perkembangan, dan menetapkan tujuan dan arahan.
Informasi ini dapat digunakan untuk diskusi antara peserta didik dengan guru. Melalui portofolio kerja ini, guru dapat membantu peserta didik mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan masing-masing. Untuk itu, kerja sama yang efektif antara guru dengan peserta didik sangat diperlukan. Di samping itu, informasi ini dapat digunakan juga oleh guru untuk memperbaiki cara belajar peserta didik. Namun, keberhasilan portofolio kerja sangat bergantung pada kemampuan peserta didik untuk merefleksikan dan mendokumentasikan kemajuan proses pembelajaran.
Dalam portofolio kerja ini yang dinilai adalah cara kerja (pengorganisasian) dan hasil kerja. Adapun kriterianya antara lain sebagai berikut.
a.     Adakah pembagian kerja di antara anggota kelompok?
b.     Apakah masing-masing anggota telah bekerja sesuai dengan tugasnya?
c.      Berapa besar kontribusi kerja kelompok terhadap hasil yang dicapaikelompok?
d.     Adakah bukti tanggung jawab bersama?
e.     Apakah kelengkapan data yang diperoleh telah sesuai dengan tugasanggota kelompok masing-masing?
f.      Apakah informasi yang diperoleh akurat?
g.     Apakah portofolio telah disusun dengan baik?
2. Portofiollo Produk
Jenis penilaian portofolio ini hanya menekankan pada penguasaan (masteri) dari tugas yang dituntut dalam standar kompetensi, kompetensi dasar dan sekumpulan indikator pencapaian hasil belaja4 serta hanya menunjukkan evidence yang paling baik, tanpa memperhatikan bagaimana dan kapan evidence tersebut diperoleh. Tujuan portofolio produk adalah untuk mendokumentasikan dan merefleksikan kualitas prestasi yang telah dicapai. Contoh portofolio produk adalah portofolio tampilan (show portofolio) dan portofolio dokumentasi (documentary portofolio)
a. Portofolio Tampilan
Portofolio bentuk ini merupakan sekumpulan hasil karya peserta didik atau dokumen terseleksi yang dipersiapkan untuk ditampilkan kepada umum. Misalnya, mempertanggungiawabkan suatu proyek, menyelenggarakan pameran, atau mempertahankan suatu konsep. Portofolio ini sangat bermanfaat jika guru ingin mengetahui kemampuan peserta didik yang sesungguhnya dan hingga mana ketepatan isi portofolio mengacu pada kompetensi yang telah ditetapkan. Bentuk ini biasanya digunakan untuk tujuan pertanggungjawaban (accountability). Syarat pokok yang harus dipenuhi oleh peserta didik dalam portofolio tampilan adalah keaslian evidence. Untuk itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh peserta didik dan guru. Pertama, peserta didik harus menandatangani lembar pernyataan keaslian. Kedua, peserta didik memberikan penghargaan kepada semua sumber yang telah membantu, termasuk identitasnya serta bentuk bantuan yang diberikan. Ketiga, guru harus melihat perencanaan, draft pekerjaan peserta didik, dan catatan selama proses berlangsung. Keempat guru harus betul-betul mengamati bagaimana peserta didik menampilkan hasil pekerjaan mereka.
Aspek yang dinilai dalam bentuk portofolio tampilan adalah sebagai berikut.
1)  Signifikansi materi, yaitu apakah materi yang dipilih benar-benar merupakan materi yang penting dan bermakna untuk diketahui dan dipecahkan? Atau seberapa besar tingkat kebermaknaan informasi yang dipilih berkaitan dengan topik yang dibahasnya? Apakah materi yang dipilih sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator pencapaian hasil belajar?
2)  Pemahaman, yaitu seberapa baik tingkat pemahaman peserta didik terhadap hakikat dan lingkup masalah, kebijakan, atau langkahlangkah yang dirumuskan.
3)  Argumentasi, yaitu apakah peserta didik dalam mempertahankan argumentasinya sudah cukup memadai, sistematis, dan relevan?
4)  Responsifness (kemampuan memberikan respons), yaitu seberapa besar tingkat kesesuaian antara respons yang diberikan dengan pertanyaan? Dalam memberikan respons, adakah bukti-bukti fisik yang ditunjukkan?
5)  Kerja sama kelompok, yaitu apakah anggota kelompok turut berpartisipasi secara aktif dalam penyajian? Adakah bukti yang menunjukkan tanggung jawab anggota dalam kelompok? Apakah para penyaji menghargai pendapat orang lain? Adakah kekompakan kerja di antara para anggota kelompok?

Contoh :
LEMBAR PENILAIAN PENAMPILAN
Judul Penampilan    : ...........................................................................
Kelas/Kelompok     : ...........................................................................
Petunjuk Penilaian   : ...........................................................................
1. Setiap kriteria diberi skor dalam skala 5 ( I - 5)
2. Skor 1=rendah; 2=cukup; 3=rata-rata; 4=baik; 5=istimewa

No
Kriteria Penilaian
Nilai
Catatan
1
Signifikansi
1.  Seberapa besar tingkat kesesuaian atau kebermaknaan informasi yang diberikan dengan topik yang dibahas?


2
Pemahaman:
2.  Seberapa baik tingkat pemahaman peserta didik terhadap hakikat dan ruang lingkup masalah yang disajikan?


3
Argumentasi :
3.  Seberapa baik alasan yang diberikan peserta didik terkait dengan pennasalahan yang dibicarakan?


4
Responsirftess :
4.  Seberapa besar kesesuaian jawaban yang diberikan peserta didik dengan pertanyaan yang muncul?


5
Kerjasama kelompok:
5.  Seberapa besar anggota kelompok berpartisipasi dalam penyajian?
6.  Bagaimana setiap anggota merasa bertanggung jawab atas perrnasalahan kelompok?
7.  Bagaimana para penyaji menghargai pendapa orang lain?




Penilai,



                                                                                      ....................................
b. Portofolio Dokumen
Portofolio dokumen menyediakan informasi baik proses maupun produk yang dihasilkan oleh peserta didik. Portofolio ini digunakan untuk memilih koleksi evidence peserta didik yang sesuai dengan kompetensi dan akan dijadikan dasar penilaian. Evidence peserta didik yang digunakan dalam portofolio dokumentasi dapat berasal dari catatan guru atau kombinasi antara catatan guru dengan kegiatan peserta didik. Model portofolio ini bermanfaat bagi peserta didik dan orang tua untuk mengetahui kemajuan hasil belajar, kelebihan dan kekurangan peserta didik dalam belajar secara perseorangan. Berdasarkan dokumen ini, baik peserta didik, orang tua maupun guru dapat melihat:
1)     Proses apa yang telah diikuti?
2)     Kerja apa yang telah dilakukan?
3)     Dokumen apa yang telah dihasilkan?
4)     Apakah hal-hal pokok telah terdokumentasikan?
5)     Apakah dolmmen disusun berdasarkan sumber-sumber data masing-masing?
6)     Apakah dokumen berkaitan dengan yang akan disajikan?
7)     Standar kompetensi mana yang telah dihrasai sampai pada pekerjaan terakilrir?
Indikator untuk penilaian dokumen itu, antara lain: kelengkapan, kejelasan, akurasi informasi yang didapat, dukungan data, kebermaknaan data grafis, dan kualifikasi dokumen. Untuk menilai suatu dokumen dapat dibuatkan model format penilaiannya.

Contoh :
LEMBAR PENILAIAN DOKUMEN
Judul Penampilan    : ...........................................................................
Kelas/Kelompok     : ...........................................................................
Petunjuk Penilaian   :
1. Setiap kriteria diberi skor dalam skala 5 ( I - 5)
2. Skor 1=rendah; 2=cukup; 3=rata-rata; 4=baik; 5=istimewa

No
Kriteria Penilaian
Nilai
Catatan
1
Kelengkapan:
1.  Apakah dokumen lengkap untuk menjawab suatu permasalahan?


2
Kejelasan:
2.  Tersusun dengan baik.
3.  Tertulis dengan baik.
4.  Mudah dipahami.


3
Informasi:
5.  Akurat
6.  Memadai
7.  Penting


4
Dukungan:
8.  Memuat contoh untuk hal-hal yang utama.
9.  Memu at alasan yang baik.


5
Data Grafis:
10.   Berkaitan dengan isi setiap bagian.
11.   Diberi judul yang tepat.
12.   Memberikan informasi.
13.   Meningkatkan pemahaman.


6
Bagian Dokumentasi:
14.   Cukup memadai.
15.   Dapat dipercaya.
16.   Berkaitan dengan hal yang dijelaskan.
17.   Terpilih (terseleksi).


Jumlah Skor
Kualifikasi Penilaian




Penilai,





                                                                                      ....................................

H. Tahap-Tahap Penilaian Portofolio
Menurut Anthoni J. Nitko (1996), ada enam tahap untuk menggunakan sebuah sistem portofolio (six steps for crafting a portfolio system), yaitu "mengidentifikasi tujuan dan fokus portofolio, mengidentifikasi isi materi umum yang akan dinilai, mengidentifikasi pengorganisasian portofolio, menggunakan portofolio dalam praktik, evaluasi pelaksanaan portofolio, dan evaluasi portofolio secara umum"' Tahap pertama akan merupakan dasar bagi penentuan tahap selanjutnya. Oleh sebab itu, jawablah semua pertanyaan pada tahap pertama tersebut sebelum lanjut pada tahap berikutnya. Dalam tulisan ini, tahap-tahap penilaian portofolio yang disarankan adalah sebagai berikut.
1.  Menentukan tujuan dan fokus portofolio. Hal ini dapat dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
a.  Mengapa portofolio itu akan dilakukan?
b.  Tujuan pembelajaran dan tujuan kurikulum (dalam hal ini kompetensi dasar) apa yang akan dicapai?
c.   Alat penilaian yang bagaimana yang tepat untuk menilai tujuan tersebut?
d.  Apakah portofolio akan difokuskan pada hasil pekerjaan yang baik, pertumbuhan dan kemajuan belajar, atau keduanya?
e.  Apakah portofolio itu akan digunakan untuk formatif, sumatif, diagnostik atau semuanya?
f.   Siapa yang akan dilibatkan dalam menentukan tujuan, fokus, dan pengaturan (organization) portofolio?
2.   Menentukan isi portofolio. Setelah menentukan tujuan, langkah selanjutnya adalah menentukan isi portofolio. Dengan demikian, isi portofolio tentunya harus sesuai dengan tujuan portofolio. Isi portofolio harus menunjukkan kemampuan peserta didik sesuai dengan kompetensi yang diharapkan. Untuk itu, semua kegiatan pembelajaran, baik di kelas maupun di luar kelas harus selalu diamati dan dinilai.
3.   Mengembangkan kriteria penilaian. Kriteria penilaian harus dirumuskan dengan jelas, baik yang berhubungan dengan proses pembelajaran maupun hasil belajar yang diharapkan. Kriteria penilaian sangat bergantung pada kompetensi, cara menilai dan evidence yang dinilai.
4.   Menyusun format penilaian Sebagaimana isi dan kriteria penilaian, maka format penilaian pun harus mengacu pada tujuan. Format penilaian banyak modelnya. Salah satunya bisa menggunakan model skala dengan tiga kriteria, seperti: baik, cukup, kurang.

Contoh:
FORMAT PENILAIAN PORTOFOLIO PROSES

Kompetensi Dasar :
Mengoperasikan komputer
berbasis Windows 2007
Nama    : Angga Zalindra Nugraha
Tanggal : 20 November 2008
Indikator
PENILAIAN
Baik
Cukup
Kurang
1.  Melakukan pengetikan dengan Windows 2007.
2.  Melakukan layout naskah dengan Word 2007
3.  Mencetak naskah yang telah dibuat.
4.  Membuat tabel dan gambar.
5.  Memasukkan gambar ke dalam file.



Dicapai melalui:
Komentar guru:
-     Bantuan guru
-     Seluruh kelas
-     Perorangan
Komentar orang tua :



5.   Mengidentifikasi engorganisasian portofolio. Siapa yang akan terlibat dalam portofolio tersebut?
6.   Menggunakan portofolio dalam praktik.
7.   Menilai pelaksanaan portofolio.
8.   Menilai portofolio secara umum.

l. Bahan-Bahan Penilaan Portofolio
Pada prinsipnya, setiap tindakan belajar peserta didik harus diberikan penghargaan. Tujuannya adalah untuk memberikan penguatan dan semangat belajar. Penghargaan tersebut dapat berbentuk tulisan atau lisan. semua penghargaan tersebut dapat dijadikan bahan penilaian portofolio. Bahan penilaian portofolio bisa juga diambil dari hasil pekerjaan peserta didik, seperti Lembar Kerja Siswa, hasil rangkuman, gambar, klipping, hasil kerja kelompok, hasil tes, buku catatan dan hal hal yang menyangkut pribadi peserta didik. Di samping itu, bahan penilaian portofolio dapat diperoleh dari alat-alat audio-visual, video atau disket. Secara keseluruhan, bahan-bahan penilaian portofolio dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian, yaitu:
1.     Penghargaan yang diperoleh peserta didik, baik tertulis maupun lisan, seperti sertifikat hasil lomba atau catatan guru tentang penghargaan lisan yang pernah diberikan kepada peserta didik dalam kurun waktu tertentu.
2.     Hasil pekerjaan peserta didik, seperti Lembar Kerja Siswa (LKS), klipping, gambar, hasil ulangan, hasil kerja kelompok, dan hasil rangkuman.
3.     Catatan/laporan dari orang tua peserta didik atau teman sekelas.
4.     Catatan pribadi peserta didik, seperti bukti kehadiran, hasil presentasi dari tugas-tugas yang selesai dikerjakan, catatan-catatan kejadian khusus (anecdotal records), dan daftar kehadiran.
5.     Bahan-bahan lain yang relevan, yaitu (a) bahan yang dapat memberikan informasi tentang perkembangan yang dialami peserta didik, dan (b) bahan yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan tentang kurikulum dan pembelajaran.
6.     Alat-alat audio-visual, video atau disket.

Setelah semua bahan penilaian portofolio dikumpulkan, kemudian disusun dan disimpan dalam sebuah dokumen. Dalam rangka penataan sebuah dokumen, guru hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Pertama, setiap dokumen harus dibuat identitas peserta didik, seperti nama, nomor induk, kelas, dan nama sekolah.
Kedua, untuk mempennudah pengecekan isi dokumen, maka setiap dokumen harus dibuat daftar isi dokumen.
Ketiga, isi dokumen harus dimasukkan ke dalam satu map atau folder dan disusun secara sistematis sesuai dengan kompetensi yang telah ditetapkan.
Keempat, isi dokumen hendaknya dikelompokkan sesuai dengan mata pelajaran dan setiap mata pelajaran diberikan warna yang berbeda.
Kelima, setiap isi dokumen harus ada catatan atau komentar dari guru dan orang tua.
Keenam, isi dokumen hendaknya tidak ditentukan sepihak oleh guru, tetapi harus melibatkan peserta didik melalui proses diskusi. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik tidak hanya dijadikan sebagai objek penilaian tetapi juga subjek penilaian.
Di samping itu, guru hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip dokumentasi portofolio, antara lain kelengkapan dan ketepatan data, ketepatan waktu, tingkat keterbacaan, praktis, sistematis, dan relevan.
Berikut ini akan dikemukakan beberapa contoh format penilaian portofolio.















FORMAT PENILAIAN PORTOFOLIO PRODUK
No
Aspek-aspek Penilaian
Indikator
Skor
Keterangan
01
Persiapan
I


II


III


02
Pembuatan
Umum


Modifikasi


Khusus


03
Komponen Penilaian
Disain


Bahan


Kreativitas



Jumlah skor




Nilai




Bandung,
Guru,




......................................


Kriteria Penilaian :
Jumlah Skor : 91 – 100 = Sangat Memuaskan
                   81 – 90   =  Memuaskan
                   71 – 80   = Baik
                   61 – 70   = Cukup
                   <60        =  Kurang

FORMAT PENILAIAN  PENAMPILAN
No
Aspek-aspek Penilaian
Indikator
Skor
Keterangan
01
Persiapan
Bahan


Mental


Fisik


02
Proses
Tahapan


Kerapian


Kerja sama


03
Penampilan
Percaya Diri


Penugasan


Daya Tarik



Jumlah skor




Nilai




Bandung,
Guru,


......................................
FORMAI PENILAIAN  LEMBAR KERJA
No
Kompetensi
Indikator
Skor
Keterangan
01
Pemahaman Materi
Akurat


02
Sintesis
Tepat


03
Penyimpulan
Sesuai


04
Penampilan
Rapi dan menarik



Jumlah Skor




Nilai




Bandung,
Guru,




......................................





FORMAT PENILAIAN KARYA TULIS
No
Kompetensi
Indikator
Skor
Keterangan
01
Kualitas Informasi
-  Akurat
-  Cermat
-  Teliti
-  Saksama


02
Pengorganisasian Gagasan (masalah)
-  Tepat
-  Runtut


03
Kebahasaan
-  Tata Bahasa
-  Gaya Bahasa


04
Penampilan
-  Rapi
-  Menarik



Jumlah Skor




Nilai




Bandung,
Guru,




......................................




FORMAT PENILAIAN  PORTOFOLIO TAMPILAN
No
Aspek-aspek Penilaian
Indikator
Skor
Keterangan
01
Isi









02
Tampilan









03
Penyampaian










Jumlah skor




Nilai




Bandung,
Guru,




......................................


FORMAT PENILAIAN TUGAS TERSTRUKTUR
Nama Siswa     : ....................................................
Kelas              : ....................................................
Mata Pelajaran         : ....................................................
Jenis Tugas     : Makalah

No
Aspek-aspek Penilaian
Skor
Bobot
Skor X Bobot
01
Judul

1

02
Masalah

1

03
Metode Penulisan

1

04
Landasan teori

2

05
Sistematika Penulisan

1

06
Pembahasan

2

07
Simpulan

1

08
Bahasa:

1


-       Tata Bahasa




-       Gaya Bahasa




Jumlah

10


Nilai akhir =
Catatan : .............................................................................................................
Bandung,
Guru,


......................................

FORMAT PENILAIAN FORMATIF DAN SUMATIF
Jenis Tes
No
Tanggal
Pokok Bahasan
Nilai
Paraf Guru
Keterangan
Formatif
(A)
01





02





03





dst





 Jumlah



 Rata-rata



Sumatif
(B)
 Tanggal :



 Jumlah A dan B



 Rata-rata A dan B








FORMAT REKAMAN ANEKDOT
No
Nama Siswa
Perilaku yang Muncul
Tempat dan Waktu
Penilaian
Positif
Negatif
01





02





03





04





dst






Bandung,
Guru,




......................................


Sumber: Arifin, Zainal, 2014. Evaluasi Pembelajaran. Bandung. PT. Remaja Rosda Karya
 

4 komentar:

  1. trima kasih. materinya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  2. Makasih ii sangat bermanfaat, terutama bagi sekolah yang mau akreditasi. Kebetulan sekolah saya mau akreditasi.

    BalasHapus
  3. Makasih ii sangat bermanfaat, terutama bagi sekolah yang mau akreditasi. Kebetulan sekolah saya mau akreditasi.

    BalasHapus