
Bab 8
Model Penilaian Portofolio
Para pakar pendidikan dan psikologi di Indonesia banyak
memberikan pandangan dan analisisnya terhadap mutu pendidikan, tetapi hingga
saat ini tidak pernah tuntas, bahkan muncul masalah-masalah pendidikan yang
baru. Masalah mutu pendidikan yang banyak dibicarakan adalah rendahnya hasil
belajar peserta didik. Padahal kita tahu, bahwa hasil belajar banyak
dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain sikap dan kebiasaan belajar,
fasilitas belajar motivasi, minat, bakat, pergaulan, lingkungan keluarga, dan
yang tak kalah pentingnya adalah kemampuan profesional guru dalam melakukan
penilaian hasil belajar itu sendiri.
Menyinggung tentang kemampuan profesional guru dalam
melakukan penilaian proses dan hasil belajaa memang masih sangat kurang.
Kebanyakan guru melakukan penilaian lebih menekankan pada hasil belajar,
sedangkan proses belajar kurang diperhatikan bahkan cenderung diabaikan.
Padahal, proses belajar sangat menentukan hasil belajar. Di samping itu,
guru-guru juga terbiasa dengan kegiatan-kegiatan penilaian rutin yang sifatnya
praktis dan ekonomis sehingga tidak heran jika guru banyak menggunakan soal
yang sama dari tahun ke tahun. Hal ini sudah dialami oleh mereka (guru) sejak
mulai bekerja sebagai guru sampai sekarang. Sebenarnya, guru pun sering
mengikuti pelatihan tentang evaluasi pembelajaran atau penilaian hasil belaiar,
tetapi setelah pelatihan, mereka tetap kembali ke habitatnya semula, yaitu
memberikan tes tertulis, baik dalam formatif maupun sumatif, tanpa melakukan
variasi, perbaikan, penyempurnaan atau inovasi dalam pelaksanaan penilaian.
Mengingat cara-cara penilaian selama ini terdapat banyak
kelemahan, maka sejak diberlakukannya Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004,
diperkenalkan suatu konsep penilaian baru yang disebut "penilaian berbasis
kelas" (classroom-based assessmenf) dengan salah satu model atau
pendekatannya adalah "penilaian berbasis portofolio" (portfolio-based
assessment), yaitu suatu model penilaian yang dilakukan secara sistematis dan
logis untuk mengungkapkan dan menilai peserta didik secara komprehensif,
objektif, akurat, dan sesuai dengan bukti-bukti autentik (dokumen) yang
dimiliki peserta didik. Implikasi pemberlakuan Kurikulum 2004 (Kurikulum
Berbasis Kompetensi) yang disempurnakan dalam Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) 2006 terhadap pola penilaian pembelajaran di sekolah adalah:
Pertama, guru dan kepala sekolah harus berperan sebagai
pembuat keputusan (decision maker) dalam perencanaan dan pelaksanaan kurikulum,
termasuk proses pembelajaran.
Kedua, guru harus menyusun silabus yang menjamin
terlaksananya proses pembelajaran yang terarah dan bermakna.
Ketiga, guru harus melakukan continous-authentic
assessment yang menjamin ketuntasan belajar dan pencapaian kompetensi peserta
didik.
A. Dasar
Pemikiran
Penilaian portofolio
sebagai suatu penilaian model baru yang diterapkan di Indonesia sejak kurikulum
2004 tentu mempunyai maksud dan tujuan tertentu, yaitu untuk meningkatkan
kualitas pendidikan di Indonesia. Hal ini memang wajar dan logis karena selama
ini sistem penilaian yang digunakan di sekolah cenderung hanya melihat hasil
belajar peserta didik dan mengabaikan proses belajarnya, sehingga nilai akhir
yang dilaporkan kepada orang tua dan pihak-pihak terkait hanya menyangkut
domain kognitif. Sikap, minat, motivasi dan keterampilan proses lainnya nyaris
tidak pernah disentuh. Portofolio sebagai salah satu bentuk penilaian berbasis
kelas mempunyai fungsi dan peran yang sangat strategis untuk menutupi kelemahan
penilaian yang telah dilakukan selama ini. Oleh sebab itu, penilaian portofolio
harus dilakukan secara akurat dan objektif serta mendasar pada bukti-bukti
autentik yang dimiliki oleh peserta didik. Perhatikan ilustrasi berikut ini.
Orang tua peserta didik A
datang ke suatu sekolah untuk menanyakan perkembangan prestasi belajar anaknya.
Dia langsung menemui kepala sekolah. Ketika orang tua tersebut menanyakan
tentang perkembangan prestasi belajar anaknya, ternyata kepala sekolah tidak
bisa memberikan jawaban yang jelas. Dia langsung memanggil wali kelas dan salah
seorang guru untuk menjelaskan secara terperinci tentang hal tersebut.
Ternyata, wali kelas dan guru itu pun hanya memberikan jawaban yang bersifat
umum, seperti cukup baik, sedang-sedang saja dan sebagainya. Orang tua tersebut
merasa tidak puas dan kecewa. Dia berharap wali kelas dan guru dapat memberikan
jawaban yang konkret, akurat dan faktual. Dia pulang dengan membawa seribu
pertanyaan. Mengapa kepala sekolah, wali kelas dan guru tidak dapat menjelaskan
perkembangan prestasi belajar anaknya secara?
Di sekolah lain, ada juga
orang tua peserta didik yang menanyakan prestasi belajar anaknya. Dia dilayani
langsung oleh setiap guru mata pelajaran di ruang guru. Setelah orang tua
tersebut menyebutkan identitas putranya, kemudian guru langsung mencari
file-nya. Betapa gembiranya orang tua tersebut ketika melihat bukti-bukti
autentik hasil pekerjaan anaknya. Ternyata, semua hal yang telah dilakukan oleh
anaknya didokumentasikan oleh guru dalam file khusus, baik itu hasil ulangan
harian, hasil kunjungan/observasi, hasil diskusi kelompok, hasil menggambar
maupun kegiatan keterampilan lainnya.
Dari ilustrasi pertama
menunjukkan bahwa kemungkinan besar guru guru di sekolah tersebut masih
menggunakan model penilaian konvensional. Hal ini dapat diketahui karena guru
tidak dapat memberikan gambaran tentang hasil belajar peserta didik secara
terperinci dan komprehensif, sehingga membuat orang tua peserta didik kecewa.
Tidak ada bukti-bukti fisik sebagai hasil belajar peserta didik yang dapat dilaporkan
kepada orang tua. Pada ilustrasi kedua, nampaknya guru sudah menggunakan
penilaian portofolio, sehingga dia dapat memberikan penjelasan tentang
perkembangan prestasi belajar kepada orang tua peserta didik secara gamblang
dan menyeluruh. Hal lain yang dapat kita pelajari dari ilustrasi kedua di atas
adalah kapan saja orang tua peserta didik atau peserta didik itu sendiri ingin
mengetahui perkembangan prestasi belajarnya, maka guru dapat dengan mudah dan
cepat memberikan penjelasan berikut bukti-bukti autentiknya.
Di banyak negara maju,
penggunaan tes sebagai salah satu alat penilaian setahap demi setahap sudah
mulai ditinggalkan, karena ternyata masih banyak guru yang kurang memahami
konsep dan strategi penilaian, baik dalam tahap perencanaan, pelaksanaan maupun
laporan hasil penilaian. Di samping itu, realitas juga menunjukkan banyak guru
yang tidak memiliki latar belakang pendidikan keguruan dan tentunya mereka
tidak pernah belajar tentang evaluasi pembelajaran atau penilaian proses dan
hasil belajar. Zainal Arifin (2006) dalam salah satu kesimpulan penelitiannya
mengemukakan, "konsep guru tentang evaluasi pada dasarnya merupakan
manifestasi dari kebiasaan dan pengalaman praktiknya selama ini, yaitu
memberikan nilai (angka) dalam pelajaran...." Konsep yang dimaksud hanya
menyentuh dimensi produk dari kegiatan evaluasi itu sendiri, belum masuk ke
dalam suatu dimensi proses yang sistematis dan kontinu serta sebagai
feed-bac& terhadap sistem pembelajaran. Di samping itu, guru masih
menganggap kegiatan penilaian identik dengan memberi angka. Dalam praktiknya,
guru-guru juga banyak yang menggunakan tes buatan orang lain atau juga dari
kumpulan soal yang notabene belum diketahui derajat validitas dan
reliabilitasnya. Tes tersebut digunakan guru dari waktu ke waktu.
Fenomena di atas
menunjukkan kepada kita bahwa itulah salah satu kelemahan tes tertulis. Oleh
sebab itu, tidak bisa ditawar lagi, guru harus mengubah sikap, kebiasaan dan
pandangannya tentang evaluasi atau penilaian. sudah saatnya guru berkiblat dengan
pendekatan dan model penilaian yang lebih modern, seperti penilaian penampilan,
penilaian autentik, dan penilaian portofolio. Guru harus mencari strategi yang
jitu untuk menilai peserta didik sesuai dengan kemampuannya yang sesungguhnya.
Di Indonesia, penilaian portofolio sudah banyak digunakan dalam berbagai bidang
pendidikan, seperti sertifikasi guru. Apa, mengapa dan bagaimana menggunakan
portofolio dalam proses pembelajaran? Untuk itu, ikutilah uraian berikut ini.
B. Pengertian Penilalan Portofolio
Istilah portofolio (portfolio) pertama kali digunakan oleh
kalangan potografer dan artis. Melalui portofolio, para potografer dapat
memperlihatkan prospektif pekerjaan mereka kepada pelanggan dengan menunjukkan
koleksi pekerjaan yang dimilikinya. Secara umum, portofolio merupakan kumpulan
dokumen berupa objek penilaian yang dipakai oleh seseorang, kelompok, lembaga,
organisasi atau perusahaan yang bertujuan untuk mendokumentasikan dan menilai
perkembangan suatu proses. Dalam dunia usaha, portofolio banyak digunakan untuk
menilai keefektifan suatu proses produksi dari jenis produk tertentu. Dalam
dunia kesehatan, portofolio dapat dilihat dari Kartu Menuju sehat (KMS) yang
digunakan untuk memantau perkembangan pertumbuhan bayi dari 0 tahun sampai usia
tertentu.
Dalam dunia pendidikan,
portofolio dapat digunakan guru untuk melihat perkembangan peserta didik dari
waktu ke waktu berdasarkan kumpulan hasil karya sebagai bukti dari suatu
kegiatan pembelajaran. Portofolio juga dapat dipandang sebagai suatu proses sosial
pedagogis, yaitu sebagai collection of
learning expefience yang terdapat di dalam pikiran peserta didik, baik yang
berwujud pengetahuan (cognitive),
keterampilan (psychomotor) maupun
sikap dan nilai (affective). Artinya,
portofolio bukan hanya berupa benda nyata, melainkan mencakup "segala
pengalaman batiniah" yrrrg terjadi pada diri peserta didik. portofolio
juga dapat digunakan oleh peserta didik untuk mengumpulkan semua dokumen dari
ilmu pengetahuan yang telah dipelajari, baik di kelas, di halaman sekolah atau
di luar sekolah. Dalam bidang bahasa, portofolio dapat merupakan suatu adjective yang sering disandingkan
dengan konsep lain, seperti pembelajaran dan penilaian, karena itu timbul
istilah portfolio-based instruction
dan portfolio-based assessment.
Menurut para ahli,
portofolio memiliki beberapa pengertian. Ada yang memandang sebagai benda/alat,
dan ada pula yang memandang sebagai metode/teknik/cara. Portofolio sebagai
suatu wujud benda fisik, atau kumpulan suatu hasil (bukti) dari suatu kegiatan,
atau bundelan, yakni kumpulan dokumentasi atau hasil pekerjaan peserta didik
yang disimpan dalam suatu bundel. Misalnya, bundelan hasil kerja peserta didik
mulai dari tes awal, tugas-tugas, catatan anekdot, piagam penghargaan,
keterangan melaksanakan tugas terstruktur, sampai pada tes akhir. Portofolio
ini merupakan kumpulan karya terpilih dari peserta didik, baik perseorangan
maupun kelompok. Istilah karya terpilih menunjukkan bahwa tidak semua karya
peserta didik dapat dimasukkan ke dalam portofolio tersebut. Karya yang diambil
adalah karya terbaik, karya yang paling penting dari pekerjaan peserta didik,
yang bermakna bagi peserta didik, sesuai dengan tuiuan pembelajaran atau
kompetensi yang telah ditetapkan.
Penilaian portofolio
berbeda dengan jenis penilaian yang lain. Penilaian portofolio adalah suatu
pendekatan atau model penilaian yang bertujuan untuk mengukur kemampuan peserta
didik dalam membangun dan merefleksi suatu pekerjaan/tugas atau karya melalui
pengumpulan (collection) bahan-bahan
yang relevan dengan tujuan dan keinginan yang dibangun oleh peserta didik,
sehingga hasil pekeriaan tersebut dapat dinilai dan dikomentari oleh gum dalam
periode tertentu. Jadi, penilaian portofolio merupakan suatu pendekatan dalam
penilaian kinerja peserta didik atau digunakan untuk menilai kinerja.
Salah satu keunggulan
penilaian portofolio adalah memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
lebih banyak terlibat, dan peserta didik sendiri dapat dengan mudah mengontrol
sejauh mana perkembangan kemampuan yang telah diperolehnya. Jadi, peserta didik
akan mampu melakukan penilaian diri (self-assessment).
Keterampilan menemukan kelebihan dan kekurangannya sendiri, serta kemampuan
untuk menggunakan kelebihan tersebut dalam mengatasi kelemahannya merupakan
modal dasar penting dalam proses pembelajaran.
Popham (1994)
menjelaskan, "penilaian portofolio merupakan penilaian secara
berkesinambungan dengan metode pengumpulan informasi atau data secara
sistematik atas hasil pekerjaan peserta didik dalam kurun waktu tertentu."
Dalam sistem penilaian portofolio, guru membuat fiIe untuk tiap-tiap peserta didik, berisi kumpulan sistematis atas
hasil prestasi belajar mereka selama mengikuti proses pembelajaran.
Di dalam fiIe portofolio, guru mengumpulkan bukti
fisik dan catatan prestasi peserta didik, seperti hasil ulangan, hasil tugas
mandiri, serta hasil praktikum. Selain prestasi akademik, isi fiIe juga dapat dielaborasi dengan
lembar catatan prestasi nonakademik, yakni rekaman profile peserta didik yang meliputi aspek kerajinan, kerapian,
ketertiban, kejujuran, kemampuan kerja sama, sikap, solidaritas, toleransi,
kedisiplinan, prestasi olahraga, kesenian, kepramukaan, dan lain-lain.
Data yang terkumpul dari
waktu ke waktu ini kemudian digunakan oleh guru untuk menilai dan melihat
perkembangan kemampuan serta prestasi akademik peserta didik dalam periode
tersebut. File portofolio sekaligus
akan memberikan umpan balik (feed back),
baik kepada guru maupun kepada peserta didik. Bagi guru, file yang berisi
prestasi peserta didik ini akan memberikan masukan (input) untuk penilaian proses, terutama dalam memperbaiki strategi,
metode dan manajemen pembelajaran di kelas. Melalui analisis file portofolio, guru dapat mengetahui
potensi, karakter, kelebihan, dan kekurangan peserta didik. Bagi peserta didik,
file ini dapat menjadi dasar pijakan
untuk mengoreksi dan memperbaiki kelemahan atau kekurangannya dalam proses
pembelajaran maupun penguasaannya tentang suatu pokok bahasan atau materi
pelajaran tertentu.
Proses terjadinya umpan
balik sangat dimungkinkan, karena dalam sistem penilaian portofolio, data yang
terekam dalam file tidak hanya
dikumpulkan saja kemudian selesai, tetapi akan dianalisis secara kolaboratif
dengan melibatkan guru, peserta didik, dan orang tua. Penilaian data melalui
pembicaraan secara periodik dengan orang tua peserta didik merupakan progress report yang akurat tentang
kemajuan prestasi belajar peserta didik serta perkembangan kepribadiannya.
Selain dapat dipergunakan
untuk memantau perkembangan peserta didik dan mendiagnosis kesulitan belajar
mereka, penilaian portofolio juga sangat bermanfaat bagi guru untuk menilai
kebutuhan (need), minat (interest), kemampuan akademik (abilities), dan karakteristik peserta
didik secara perorangan. Hal tersebut penting, karena seharusnya dalam suatu
sistem penilaian, eksistensi peserta didik secara perorangan tidak boleh
dieliminasikan sebagaimana yang sering terjadi dalam tes standar seperti
SNM-PTN dan UAS-BN.
C. Tujuan dan Fungsi Penilaian
Portofolio
Penilaian portofolio
dapat digunakan sebagai alat formatif maupun sumatif. Portofolio sebagai alat
formatif digunakan untuk memantau kemajuan peserta didik dari hari ke hari dan
mendorong peserta didik dalam merefleksi pembelajaran mereka sendiri.
Portofolio seperti ini difokuskan pada proses perkembangan peserta didik dan
digunakan untuk tujuan formatif dan diagnostik. Penilaian portofolio ditujukan
juga untuk penilaian sumatif pada akhir semester atau akhir tahun pelajaran.
Hasil penilaian portofolio sebagai alat sumatif ini dapat digunakan untuk
mengisi angka rapor peserta didik, yang menunjukkan prestasi peserta didik
dalam mata pelajaran tertentu.
1.
Tujuan Penilaian Portofolio
Pada hakikatnya tujuan
penilaian portofolio adalah untuk memberikan informasi kepada orang tua tentang
perkembangan peserta didik secara lengkap dengan dukungan data dan dokumen yang
akurat. Rapor merupakan bentuk laporan prestasi pesefta didik dalam belajar
dalam kurun waktu tertentu. Portofolio merupakan lampiran dari rapoq, dengan
demikian rapor tetap harus dibuat.

Gambar 8.1
Tujuan Penilaian Portofolio
Tujuan portofolio
ditentukan oleh apa yang harus dikerjakan dan siapa yang akan menggunakan
penilaian tersebut. Dalam portofolio banyak digunakan tes tertulis (paper and pencil test), project, product,
dan catatan kemampuan (records of
performance). S. Surapranata
dan M. Hatta (2004) mengemukakan penilaian portofolio dapat digunakan untuk
mencapai beberapa tujuan, yaitu "menghargai perkembangan yang dialami
peserta didik, mendokumentasikan proses pembelajaran yang berlangsung, memberi
perhatian pada prestasi kerja peserta didik yang terbaik, merefleksikan
kesanggupan mengambil risiko dan melakukan eksperimentasi, meningkatkan
efektivitas proses pengajaran, bertukar informasi dengan orang tua/wali peserta
didik dan guru lain, membina dan mempercepat pertumbuhan konsep diri positif
pada peserta didik, meningkatkan kemampuan melakukan refleksi diri, membantu
peserta didik dalam merumuskan tujuan".
2.
Fungsi Penliaian Portofolio
Sebagaimana telah disinggung
sebelumnya bahwa portofolio merupakan kumpulan karya peserta didik yang
disimpan dalam sebuah file. Namun, bukan berarti portofolio hanya merupakan
tempat penyimpanan hasil pekerjaan peserta didik melainkan juga sebagai sumber
informasi bagi guru, orang tua, dan peserta didik itu sendiri. Portofolio dapat
dijadikan sebagai bahan tindak lanjut dari suatu pekerjaan yang telah dilakukan
peserta didik sehingga guru dan orang tua mempunyai kesempatan untuk
mengembangkan kemampuan peserta didik. Fungsi penilaian portofblio dapat kita
lihat dari berbagai segi, yaitu :
a. Portofolio sebagai sumber informasi
bagi guru dan orang tua untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan kemampuan
peserta didik, tanggung jawab dalam belajaS, perluasan dimensi belajar, dan inovasi
pembelajaran.
b. Portofolio sebagai alat pembelajaran
merupakan komponen kurikulum, karena portofolio mengharuskan peserta didik
untuk mengoleksi dan menunjukkan hasil kerja mereka.
c.
Portofolio
sebagai alat penilaian autentik (authentic
assessment).
d. Portofolio sebagai sumber informasi
bagi peserta didik untuk melakukan self-assessment.
Maksudnya, peserta didik mempunyai kesempatan yang banyak untuk menilai diri
sendiri dari waktu ke waktu.

Gambar 8.2
Fungsi Penilaian Portofolio
Selanjutnya, Direktorat
PLP-Ditjen Dikdasmen-Depdiknas (2003) mengemukakan bahwa penilaian portofolio
dapat digunakan untuk: (a) memperlihatkan perkembangan pemikiran atau pemahaman
siswa pada periode waktu tertentu, (b) menunjukkan suatu pemahaman dari
beberapa konsep, topik, dan isu yang diberikan, (c) mendemonstrasikan perbedaan
bakat (d) mendemonstrasikan kemampuan untuk memproduksi atau mengkreasi suatri
pekerjaan baru secara orisinal, (e) mendokumentasikan kegiatan selama periode
waktu tertentu, (f) mendemonstrasikan kemampuan menampilkan suatu karya seni,
(g) mendemonstrasikan kemampuan mengintegrasikan teori dan praktik, dan (h)
merefleksikan nilai-nilai individual atau pandangan dunia secara lebih luas.
D. PrlnsipPrlnslp
Penilaian Portofollo
Proses penilaian
portofolio menuntut terjadinya interaksi multiarah, yaitu dari guru ke peserta
didik, dari peserta didik ke guru, dan antarpeserta didik. Direktorat PLP
Ditjen Dikdasmen Depdiknas (2003) mengemukakan pelaksanaan penilaian portofolio
hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip "mutual trust, confidentiality,
joint ownership, satisfaction, and relevance".

Gambar 8.3 Prinsip-Prinsip Penilaian
Portofolio
1. Mutual
trust (saling
mempercayai), artinya jangan ada saling mencurigai antara guru dengan peserta
didik maupun antarpeserta didik. Mereka harus sama-sama saling percaya, saling
membutuhkan, saling membantu, terbuka, jujuq, dan adil sehingga dapat membangun
suasana penilaian yang lebih kondusif. Guru juga hendaknya dapat menciptakan
suasana penilaian yang kondusif, wajar dan alami sehingga hasil penilaian yang
diperoleh betul-betul menggambarkan kemampuan peserta didik yang sesungguhnya.
2. Confidentiality (kerahasiaan bersama), artinya guru
harus menjaga kerahasiaan semua hasil pekerjaan peserta didik dan dokumen yang
ada, baik perseorangan maupun kelompok, tidak boleh diberikan atau
diperlihatkan kepada siapa pun sebelum diadakan pameran. Hal ini dimaksudkan
agar peserta didik yang mempunyai kelemahan tidak merasa dipermalukan. Menjaga
kerahasiaan bersama ini juga mempunyai arti lain, yaitu memotivasi peseta didik
untukmemperbaiki hasil pekerjaannya dan meningkatkan kepercayaanpeserta didik
kepada guru.
3. Joint
Ownership (milik
bersama), artinya semua hasil pekerjaan peserta didik dan dokumen yang ada
harus menjadi milik bersama antara guru dan peserta didik karena itu harus
dijaga bersama, baik penyimpanannya maupun penempatannya. Berikan kemudahan
kepada peserta didik untuk melihat, menyimpan, dan mengambil kembali portofolio
mereka. Hal ini dimaksudkan juga untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab peserta
didik.
4. Satisfaction (kepuasan), artinya semua dokumen
dalam rangka pencapaian standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator
harus dapat memuaskan semua pihak, baik guru, orang tua maupun peserta didik,
karena dokumen tersebut merupakan bukti karya terbaik peserta didik sebagai
hasil pembinaan guru.
5. Relevance (kesesuaian), artinya dokumen yang
ada harus sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator yang
diharapkan. Kesesuaian ini pada gilirannya berkaitan dengan prinsip kepuasan.
Di samping
prinsip-prinsip tersebut di atas, S.Surapranata dan M.Hatta (2OO4) menambahkan
tiga prinsip, yaitu "penciptaan budaya mengajar, refleksi bersama, serta
proses dan hasil". Penilaian portofolio hanya dapat dilakukan jika pembelajarannya
pun menggunakan pendekatan portofolio. Artinya, jika guru dalam pembelajaran
hanya menuntut peserta didik untuk menghafal pengetahuan atau fakta pada
tingkat rendah, maka penilaian portofolio tidak akan bermakna. Penilaian
portofolio akan efektif jika pembelajarannya menuntut peserta didik untuk
menunjukkan kemampuan yang nyata dan menggambarkan pengembangan aspek
pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai pada taraf yang lebih tinggi.
Prinsip penilaian
portofolio yang lain adalah memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
melakukan refleksi bersama-sama. Peserta didik dapat merefleksikan tentang
proses berpikir mereka sendiri, kemampuan pemahaman mereka sendiri, pemecahan
masalah, dan pengambilan keputusan. Tidak hanya itu, penilaian portofolio juga
harus diarahkan untuk menilai proses belajar peserta didik, seperti catatan
perilaku harian, sikap dan motivasi belajar, antusias tidaknya dalam mengikuti
pelajaran, baik dalam kegiatan belajar kelompok maupun individual. Bukan hanya
proses belajaa tetapi juga harus menilai hasil akhir suatu tugas yang diberikan
oleh guru.
E.
Karakterlstlk Penllalan Portofolio
Sebagaimana telah penulis
kemukakan bahwa penilaian portofolio dilakukan sesuai dengan kegiatan
pembelajaran yang berbasis portofolio (portfolio-based
instruction). Kalau guru menggunakan model pembelajaran tradisional, tentu
guru akan kesulitan melakukan penilaian portofolio, terutama dalam
mengembangkan instrumen penilaiannya. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran
portofolio tidak hanya terjadi di dalam kelas, tetapi juga di luar kelas.
Implikasinya adalah bahwa hasil pekerjaan peserta didik yang dinilai melalui
penilaian portofolio adalah hasil pekerjaan peserta didik yang dilakukan baik
di kelas maupun di luar kelas sesuai dengan tuntutan kompetensi dasarnya, tidak
hanya dalam dimensi proses, tetapi juga dimensi produk.
Di samping itu, melalui
penilaian portofolio, peserta didik dapat memantau perkembangan kemampuannya
secara mandiri, menunjukkan cara belajar yang berbeda antara seorang peserta
didik dengan peserta didik lainnya, menunjukkan kualitas hasil pekerjaannya,
menunjukkan kelebihan yang mereka miliki, mengembangkan kemampuan
bersosialisasi, dan memotivasi dirinya untuk lebih giat melakukan kegiatan
belajar, memberikan peluang yang besar bagi peserta didik untuk melakukan
dialog dengan guru dan orang tuanya secara intensif tentang kelebihan dan
kekurangannya.
Menurut Barton dan
Collins dalam S.Surapranata dan M.Hatta (2004) terdapat beberapa karakteristik
esensial penilaian portofolio, yaitu multisumber, autentik, dinamis, eksplisit,
integrasi, kepemilikan, dan beragam tujuan.

Gambar 8.4 Karakteristik Penilaian
Portofolio
Multisumber dimaksudkan
bahwa pelaksanaan penilaian portofolio harus dilakukan dari berbagai sumber,
seperti peserta didik, guru, orang tua, masyarakat, dan evidence lainnya, seperti gambar, lukisan, jurnal, audio, dan video tape, baik secara tertulis maupun
tindakan. Evidence yang dimaksud
haruslah autentik dan berhubungan dengan program pembelajaran, kegiatan,
standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator yang hendak dicapai.
Misalnya, jika guru ingin mengetahui kemampuan peserta didik tentang
keterampilan komputer, maka guru harus menilai secara langsung setiap peserta
didik dalam menggunakan komputer, bukan dengan cara memberi tes tertulis
tentang pengetahuan komputer. Begitu juga, ketika guru ingin mengetahui
kemampuan peserta didik dalam melaksanakan Senam Kesehatan Jasmani, tentunya
guru harus melihat secara langsung bagaimana peserta didik menunjukkan atau
mempraktikkan gerakan-gerakan Senam Kesehatan Jasmani, bukan memberikan tes
tertulis tentang cara-cara melaksanakan Senam Kesehatan Jasmani.
Di samping itu, penilaian
portofolio menuntut adanya pertumbuhan dan perkembangan dari setiap peserta
didik. oleh sebab itu, sebaiknya setiap evidence
dari waktu ke waktu harus dikumpulkan dan didokumentasikan. Seandainya evidence tersebut akan dipilih, maka
pilihlah secara selektif. Penilaian portofolio juga harus jelas, baik jenis,
teknik, prosedur maupun kompetensi yang akan diukur. Kejelasan yang dimaksud
bukan hanya untuk guru, tetapi juga peserta didik. Dalam pelaksanaannya, antara
kegiatan peserta didik di kelas dengan kehidupan nyata haruslah terintegrasi.
Artinya, penilaian portofolio tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari
sehingga peserta didik tidak jauh dari apa yang mereka alami. Peserta didik
juga dapat dengan mudah mengaitkan antara kemampuan yang diperolehnya dengan
kenyataan sehari-hari.
Hal yang sangat penting
dalam penilaian portofolio adalah adanya rasa memiliki bagi setiap peserta
didik terhadap semua evidence yang
dikumpulkan guru, sehingga peserta didik dapat menjaga dengan baik semua
evidence. Pelaksanaan penilaian portofolio bukan hanya mengacu pada kompetensi
yang harus dikuasai oleh peserta didik, tetapi juga tujuan-tujuan lain yang
bermanfaat bagi program pembelajaran, seperti keefektifan program, perkembangan
peserta didik, dan dapat dijadikan alat komunikasi peserta didik ke berbagai
pihak yang berkepentingan.
F. Kelebihan dan Kekurangan
penilaian portofolio
Setiap konsep atau model
penilaian tentu ada kelebihan dan kekurangannya. Begitu juga dengan moder
penilaian portofolio. Kelebihan model penilaian portofolio, antara rain sebagai
berikut.
1.
Dapat
melihat pertumbuhan dan perkembangan kemampuan peserta didik dari waktu ke
waktu berdasarkan feed-backdan refleksi diri.
2.
Membantu
guru melakukan penilaian secara adil, objektif, transparan dan dapat
dipertanggungjawabkan tanpa mengurangi kreativitas peserta didik di kelas.
3.
Mengajak
peserta didik untuk belajar bertanggung jawab terhadap apa yang telah mereka
kerjakan, baik di kelas maupun di luar kelas dalam rangka implementasi program
pembelajaran.
4.
Meningkatkan
peran serta peserta didik secara aktif dalam pembelajaran dan penilaian.
Kegiatan.
5.
Memberi
kesempatan kepada peserta didik untuk meningkatkan kemampuan mereka.
6.
Membantu
guru mengkrarifikasi dan mengidentifikasi program pembelajaran.
7.
Terlibatnva
berbagai pihak, seperti orang tua, guru, komite sekolah, dan masyarakat lainnya
daral melihat pencapaian kemampuan peserta didik.
8.
Memungkinkan
peserta didik merakukan penilaian diri (self_assessment),
refleksi, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis (critical thinking).
9.
Memungkinkan
guru merakukan penilaian secara fleksibel, tetapi tetap mengacu pada kompetensi
dasar dan indikator hasir berajar yang ditentukan.
10.
Guru
dan peserta didik sama-sama bertanggung jawab untuk merancang dan menilai
kemajuan belajar.
11.
Dapat
digunakan untuk menilai kelas yang heterogen antara peserta didik yang pandai
dan kurang pandai.
12.
Memungkinkan
guru memberikan hadiah terhadap setiap usaha belajar peserta didik. Adapun
kekurangan penilaian portofolio, antara Iain sebagai berikut.
1.
Membutuhkan
waktu dan kerja ekstra.
2.
Penilaian
portoforio dianggap kurang reliabel dibandingkan dengan bentuk penilaian yang lain.
3.
Ada
kecenderungan guru hanya memperhatikan pencapaian akhir sehingga proses.
penilaian kurang mendapat perhatian.
4.
Jika
guru melaksanakan proses pembelajaran yang bersifat teacher-oriented, kemungkinan besar inisiatif dan kreativitas
peserta didik akan terbelenggu sehingga penilaian portoforio tidak dapat
dilaksanakan dengan baik.
5.
orang
tua peserta didik sering berpikir skeptis karena raporan hasil belajar anaknya
tidak berbentuk angka
6.
Penilaian
portofolio masih relatif baru sehingga banyak guru, orang tua dan peserta didik
yang belum mengetahui dan memahaminya.
7.
Tidak
tersedianya kriteria penilaian yang jelas.
8.
Analisis
terhadap penilaian portorotio agak sulit dilakukan sebagai akibat dikuranginya
penggunaan angka.
9.
Sulit
dilakukan terutama menghadapi ujian dalam skala nasional.
10.
Dapat
menjebak peserta didik jika terlalu sering menggunakan format yang lengkap dan
detail.
G. Jenis Penilaian
portofolio
Jenis penilaian
portofolio akan memberikan pemahaman tentang perlunya penggunaan penilaian
portofolio secara bervariasi sesuai dengan jenis kegiatan belaiar yang-dilakukan
peserta didik. Artinya, hasil berajar peserta didik tidak dapat diukur hanya
dengan satu jenis penilaian saja melainkan harus menggunakan berbagai jenis penilaian.
Di samping itu, setiap jenis portofolio mempunvai instrumen yang berbeda.
Dengan demikian, guru harus memiliki kecakapan khusus bagaimana mengembangkan
berbagai instrumen dalam setiap jenis penilaian portofolio. Tahapan penilaian
portofolio akan memberikan pemahaman kepada guru bahwa penilaian portofolio
tidak dapat dilakukan secara sembarangan, tetapi harus sistematis, bertahap,
dan rasional sesuai dengan tahap-tahap yang telah ditetapkan. Banyak guru yang
salah melaksanakan penilaian portofolio karena tidak memahami prosedur yang
harus ditempuh.Akibatnya, peserta didik dapat dirugikan.
Apabila dilihat dari
jumlah peserta didik, maka penilaian portofolio dapat dibagi menjadi dua jenis,
yaitu portofolio perseorangan dan portofolio kelompok. Jika dilihat dari
sistem, portofolio dapat dibagi dua jenis, yaitu portofolio proses dan
portofolio produk.

Gambar 8.5
Jenis Penilaian Portofolio
Portofolio perseorangan merupakan
kumpulan hasil kerja peserta didik secara perseorangan, dan portofolio kelompok
merupakan kumpulan hasil karya sekelompok peserta didik atau kelas tertentu.
1. Portofolio Proses
Jenis portofolio proses
menunjukkan tahapan belajar dan menyajikan catatan perkembangan peserta didik
dari waktu ke waktu. Portofolio proses menunjukkan kegiatan pembelajaran untuk
mencapai standar kompetensi, kompetensi dasar, dan sekumpulan indikator yang
telah ditetapkan dalam kurikulum, serta menunjukkan semua hasil dari awal
sampai dengan akhir selama kurun waktu tertentu. Tujuan menggunakan portofolio proses
adalah untuk membantu peserta didik mengidentifikasi tujuan pembelajaran,
perkembangan hasil belajar dari waktu ke waktu, dan menunjukkan pencapaian
hasil belajar. Pendekatan ini lebih menekankan pada bagaimana peserta didik
belajar; berkreasi, termasuk mulai dari draft awal, bagaimana proses awal itu
terjadi, dan tentunya sepanjang peserta didik dinilai.
Dalam portofolio proses,
guru dapat menyajikan berbagai macam tugas yang setara atau yang berbeda kepada
peserta didik. Dengan kata lain, peserta didik boleh memilih tugas-tugas yang
dianggapnya cocok untuk mereka. Guru juga dapat memutuskan apa yang harus
dikerjakan peserta didik atau peserta didik diajak bekerja sama dengan peserta
didik lain dalam mengerjakan tugas tertentu. Biasanya, portofolio proses
digunakan untuk melihat proses pembuatan suatu karya atau suatu pekerjaan yang
menuntut adanya proses diskusi antara peserta didik dengan guru atau sesama
peserta didik. Berdasarkan proses kegiatan tersebut, guru dapat membantu
peserta didik untuk mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya.
Salah satu bentuk
portofolio proses adalah portofolio kerja (working portfolio), yaitu bentuk
yang digunakan untuk memilih koleksi evidence
peserta didik, memantau kemajuan atau perkembangan, dan menilai peserta didik
dalam mengelola kegiatan belajar mereka sendiri. Peserta didik mengumpulkan
semua hasil kerja termasuk coretan-coretan (sketsa), buram, catatan, kumpulan
untuk rangsangan, buram setengah jadi, dan pekerjaan yang sudah selesai.
Portofolio kerja bermanfaat bagi peserta didik terutama untuk memberikan
informasi tentang bagaimana mengorganisasikan dan mengelola kerja, merefleksi
dari pencapaiannya, memantau perkembangan, dan menetapkan tujuan dan arahan.
Informasi ini dapat
digunakan untuk diskusi antara peserta didik dengan guru. Melalui portofolio
kerja ini, guru dapat membantu peserta didik mengidentifikasi kekuatan dan
kelemahan masing-masing. Untuk itu, kerja sama yang efektif antara guru dengan
peserta didik sangat diperlukan. Di samping itu, informasi ini dapat digunakan
juga oleh guru untuk memperbaiki cara belajar peserta didik. Namun,
keberhasilan portofolio kerja sangat bergantung pada kemampuan peserta didik
untuk merefleksikan dan mendokumentasikan kemajuan proses pembelajaran.
Dalam portofolio kerja
ini yang dinilai adalah cara kerja (pengorganisasian) dan hasil kerja. Adapun
kriterianya antara lain sebagai berikut.
a.
Adakah
pembagian kerja di antara anggota kelompok?
b.
Apakah
masing-masing anggota telah bekerja sesuai dengan tugasnya?
c.
Berapa
besar kontribusi kerja kelompok terhadap hasil yang dicapaikelompok?
d.
Adakah
bukti tanggung jawab bersama?
e.
Apakah
kelengkapan data yang diperoleh telah sesuai dengan tugasanggota kelompok
masing-masing?
f.
Apakah
informasi yang diperoleh akurat?
g.
Apakah
portofolio telah disusun dengan baik?
2. Portofiollo Produk
Jenis penilaian
portofolio ini hanya menekankan pada penguasaan (masteri) dari tugas yang
dituntut dalam standar kompetensi, kompetensi dasar dan sekumpulan indikator
pencapaian hasil belaja4 serta hanya menunjukkan evidence yang paling baik,
tanpa memperhatikan bagaimana dan kapan evidence tersebut diperoleh. Tujuan
portofolio produk adalah untuk mendokumentasikan dan merefleksikan kualitas
prestasi yang telah dicapai. Contoh portofolio produk adalah portofolio
tampilan (show portofolio) dan portofolio dokumentasi (documentary portofolio)
a.
Portofolio Tampilan
Portofolio bentuk ini merupakan sekumpulan hasil karya
peserta didik atau dokumen terseleksi yang dipersiapkan untuk ditampilkan
kepada umum. Misalnya, mempertanggungiawabkan suatu proyek, menyelenggarakan
pameran, atau mempertahankan suatu konsep. Portofolio ini sangat bermanfaat
jika guru ingin mengetahui kemampuan peserta didik yang sesungguhnya dan hingga
mana ketepatan isi portofolio mengacu pada kompetensi yang telah ditetapkan.
Bentuk ini biasanya digunakan untuk tujuan pertanggungjawaban (accountability). Syarat pokok yang harus
dipenuhi oleh peserta didik dalam portofolio tampilan adalah keaslian evidence. Untuk itu, ada beberapa hal
yang harus diperhatikan oleh peserta didik dan guru. Pertama, peserta didik
harus menandatangani lembar pernyataan keaslian. Kedua, peserta didik
memberikan penghargaan kepada semua sumber yang telah membantu, termasuk
identitasnya serta bentuk bantuan yang diberikan. Ketiga, guru harus melihat
perencanaan, draft pekerjaan peserta didik, dan catatan selama proses
berlangsung. Keempat guru harus betul-betul mengamati bagaimana peserta didik
menampilkan hasil pekerjaan mereka.
Aspek yang dinilai dalam bentuk portofolio tampilan
adalah sebagai berikut.
1) Signifikansi materi, yaitu apakah
materi yang dipilih benar-benar merupakan materi yang penting dan bermakna
untuk diketahui dan dipecahkan? Atau seberapa besar tingkat kebermaknaan informasi
yang dipilih berkaitan dengan topik yang dibahasnya? Apakah materi yang dipilih
sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator pencapaian
hasil belajar?
2) Pemahaman, yaitu seberapa baik
tingkat pemahaman peserta didik terhadap hakikat dan lingkup masalah,
kebijakan, atau langkahlangkah yang dirumuskan.
3) Argumentasi, yaitu apakah peserta
didik dalam mempertahankan argumentasinya sudah cukup memadai, sistematis, dan
relevan?
4) Responsifness (kemampuan memberikan
respons), yaitu seberapa besar tingkat kesesuaian antara respons yang diberikan
dengan pertanyaan? Dalam memberikan respons, adakah bukti-bukti fisik yang ditunjukkan?
5) Kerja sama kelompok, yaitu apakah
anggota kelompok turut berpartisipasi secara aktif dalam penyajian? Adakah
bukti yang menunjukkan tanggung jawab anggota dalam kelompok? Apakah para
penyaji menghargai pendapat orang lain? Adakah kekompakan kerja di antara para
anggota kelompok?
Contoh :
LEMBAR
PENILAIAN PENAMPILAN
Judul
Penampilan :
...........................................................................
Kelas/Kelompok
:
...........................................................................
Petunjuk
Penilaian :
...........................................................................
1. Setiap
kriteria diberi skor dalam skala 5 ( I - 5)
2. Skor
1=rendah; 2=cukup; 3=rata-rata; 4=baik; 5=istimewa
|
No
|
Kriteria Penilaian
|
Nilai
|
Catatan
|
|
1
|
Signifikansi
1. Seberapa besar tingkat kesesuaian
atau kebermaknaan informasi yang diberikan dengan topik yang dibahas?
|
|
|
|
2
|
Pemahaman:
2. Seberapa baik tingkat pemahaman
peserta didik terhadap hakikat dan ruang lingkup masalah yang disajikan?
|
|
|
|
3
|
Argumentasi
:
3. Seberapa baik alasan yang diberikan
peserta didik terkait dengan pennasalahan yang dibicarakan?
|
|
|
|
4
|
Responsirftess
:
4. Seberapa besar kesesuaian jawaban yang diberikan peserta didik dengan pertanyaan yang muncul?
|
|
|
|
5
|
Kerjasama
kelompok:
5. Seberapa besar anggota kelompok berpartisipasi dalam
penyajian?
6. Bagaimana setiap
anggota merasa
bertanggung
jawab atas perrnasalahan
kelompok?
7. Bagaimana para penyaji menghargai pendapa
orang lain?
|
|
|
Penilai,
....................................
b.
Portofolio Dokumen
Portofolio dokumen menyediakan informasi baik proses
maupun produk yang dihasilkan oleh peserta didik. Portofolio ini digunakan
untuk memilih koleksi evidence
peserta didik yang sesuai dengan kompetensi dan akan dijadikan dasar penilaian.
Evidence peserta didik yang digunakan
dalam portofolio dokumentasi dapat berasal dari catatan guru atau kombinasi
antara catatan guru dengan kegiatan peserta didik. Model portofolio ini
bermanfaat bagi peserta didik dan orang tua untuk mengetahui kemajuan hasil
belajar, kelebihan dan kekurangan peserta didik dalam belajar secara
perseorangan. Berdasarkan dokumen ini, baik peserta didik, orang tua maupun
guru dapat melihat:
1)
Proses
apa yang telah diikuti?
2)
Kerja
apa yang telah dilakukan?
3)
Dokumen
apa yang telah dihasilkan?
4)
Apakah
hal-hal pokok telah terdokumentasikan?
5)
Apakah
dolmmen disusun berdasarkan sumber-sumber data masing-masing?
6)
Apakah
dokumen berkaitan dengan yang akan disajikan?
7)
Standar
kompetensi mana yang telah dihrasai sampai pada pekerjaan terakilrir?
Indikator
untuk penilaian dokumen itu, antara lain: kelengkapan, kejelasan, akurasi
informasi yang didapat, dukungan data, kebermaknaan data grafis, dan
kualifikasi dokumen. Untuk menilai suatu dokumen dapat dibuatkan model format
penilaiannya.
Contoh :
LEMBAR PENILAIAN
DOKUMEN
Judul
Penampilan :
...........................................................................
Kelas/Kelompok
: ...........................................................................
Petunjuk
Penilaian :
1. Setiap
kriteria diberi skor dalam skala 5 ( I - 5)
2. Skor
1=rendah; 2=cukup; 3=rata-rata; 4=baik; 5=istimewa
|
No
|
Kriteria Penilaian
|
Nilai
|
Catatan
|
|
1
|
Kelengkapan:
1. Apakah dokumen lengkap untuk
menjawab suatu permasalahan?
|
|
|
|
2
|
Kejelasan:
2. Tersusun dengan baik.
3. Tertulis dengan baik.
4. Mudah dipahami.
|
|
|
|
3
|
Informasi:
5. Akurat
6. Memadai
7. Penting
|
|
|
|
4
|
Dukungan:
8. Memuat contoh untuk hal-hal yang
utama.
9. Memu at alasan yang baik.
|
|
|
|
5
|
Data
Grafis:
10.
Berkaitan
dengan isi setiap bagian.
11.
Diberi
judul yang tepat.
12.
Memberikan
informasi.
13.
Meningkatkan
pemahaman.
|
|
|
|
6
|
Bagian
Dokumentasi:
14.
Cukup
memadai.
15.
Dapat
dipercaya.
16.
Berkaitan
dengan hal yang dijelaskan.
17.
Terpilih
(terseleksi).
|
|
|
|
Jumlah
Skor
Kualifikasi
Penilaian
|
|
|
|
Penilai,
....................................
H. Tahap-Tahap
Penilaian Portofolio
Menurut Anthoni J. Nitko (1996), ada enam tahap untuk
menggunakan sebuah sistem portofolio (six
steps for crafting a portfolio system), yaitu "mengidentifikasi tujuan
dan fokus portofolio, mengidentifikasi isi materi umum yang akan dinilai,
mengidentifikasi pengorganisasian portofolio, menggunakan portofolio dalam
praktik, evaluasi pelaksanaan portofolio, dan evaluasi portofolio secara
umum"' Tahap pertama akan merupakan dasar bagi penentuan tahap
selanjutnya. Oleh sebab itu, jawablah semua pertanyaan pada tahap pertama
tersebut sebelum lanjut pada tahap berikutnya. Dalam tulisan ini, tahap-tahap
penilaian portofolio yang disarankan adalah sebagai berikut.
1. Menentukan tujuan dan fokus
portofolio. Hal ini dapat dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan
sebagai berikut:
a. Mengapa portofolio itu akan
dilakukan?
b. Tujuan pembelajaran dan tujuan
kurikulum (dalam hal ini kompetensi dasar) apa yang akan dicapai?
c.
Alat
penilaian yang bagaimana yang tepat untuk menilai tujuan tersebut?
d. Apakah portofolio akan difokuskan
pada hasil pekerjaan yang baik, pertumbuhan dan kemajuan belajar, atau
keduanya?
e. Apakah portofolio itu akan digunakan
untuk formatif, sumatif, diagnostik atau semuanya?
f.
Siapa
yang akan dilibatkan dalam menentukan tujuan, fokus, dan pengaturan (organization) portofolio?
2. Menentukan isi portofolio. Setelah
menentukan tujuan, langkah selanjutnya adalah menentukan isi portofolio. Dengan
demikian, isi portofolio tentunya harus sesuai dengan tujuan portofolio. Isi
portofolio harus menunjukkan kemampuan peserta didik sesuai dengan kompetensi
yang diharapkan. Untuk itu, semua kegiatan pembelajaran, baik di kelas maupun
di luar kelas harus selalu diamati dan dinilai.
3. Mengembangkan kriteria penilaian.
Kriteria penilaian harus dirumuskan dengan jelas, baik yang berhubungan dengan
proses pembelajaran maupun hasil belajar yang diharapkan. Kriteria penilaian
sangat bergantung pada kompetensi, cara menilai dan evidence yang dinilai.
4. Menyusun format penilaian Sebagaimana
isi dan kriteria penilaian, maka format penilaian pun harus mengacu pada
tujuan. Format penilaian banyak modelnya. Salah satunya bisa menggunakan model
skala dengan tiga kriteria, seperti: baik, cukup, kurang.
Contoh:
FORMAT
PENILAIAN PORTOFOLIO PROSES
|
Kompetensi
Dasar :
Mengoperasikan
komputer
berbasis
Windows 2007
|
Nama
: Angga Zalindra Nugraha
Tanggal
: 20 November 2008
|
||
|
Indikator
|
PENILAIAN
|
||
|
Baik
|
Cukup
|
Kurang
|
|
|
1. Melakukan pengetikan dengan Windows
2007.
2. Melakukan layout naskah dengan Word
2007
3. Mencetak naskah yang telah dibuat.
4. Membuat tabel dan gambar.
5. Memasukkan gambar ke dalam file.
|
|
|
|
|
Dicapai melalui:
|
Komentar
guru:
|
||
|
- Bantuan guru
|
|||
|
- Seluruh kelas
|
|||
|
- Perorangan
|
|||
|
Komentar
orang tua :
|
|||
5. Mengidentifikasi engorganisasian
portofolio. Siapa yang akan terlibat dalam portofolio tersebut?
6. Menggunakan portofolio dalam praktik.
7. Menilai pelaksanaan portofolio.
8. Menilai portofolio secara umum.
l. Bahan-Bahan Penilaan
Portofolio
Pada prinsipnya, setiap tindakan belajar peserta didik
harus diberikan penghargaan. Tujuannya adalah untuk memberikan penguatan dan
semangat belajar. Penghargaan tersebut dapat berbentuk tulisan atau lisan.
semua penghargaan tersebut dapat dijadikan bahan penilaian portofolio. Bahan
penilaian portofolio bisa juga diambil dari hasil pekerjaan peserta didik,
seperti Lembar Kerja Siswa, hasil rangkuman, gambar, klipping, hasil kerja
kelompok, hasil tes, buku catatan dan hal hal yang menyangkut pribadi peserta
didik. Di samping itu, bahan penilaian portofolio dapat diperoleh dari
alat-alat audio-visual, video atau disket. Secara keseluruhan, bahan-bahan
penilaian portofolio dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian, yaitu:
1.
Penghargaan
yang diperoleh peserta didik, baik tertulis maupun lisan, seperti sertifikat
hasil lomba atau catatan guru tentang penghargaan lisan yang pernah diberikan
kepada peserta didik dalam kurun waktu tertentu.
2.
Hasil
pekerjaan peserta didik, seperti Lembar Kerja Siswa (LKS), klipping, gambar,
hasil ulangan, hasil kerja kelompok, dan hasil rangkuman.
3.
Catatan/laporan
dari orang tua peserta didik atau teman sekelas.
4.
Catatan
pribadi peserta didik, seperti bukti kehadiran, hasil presentasi dari
tugas-tugas yang selesai dikerjakan, catatan-catatan kejadian khusus (anecdotal records), dan daftar
kehadiran.
5.
Bahan-bahan
lain yang relevan, yaitu (a) bahan yang dapat memberikan informasi tentang
perkembangan yang dialami peserta didik, dan (b) bahan yang dapat dijadikan
sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan tentang kurikulum dan
pembelajaran.
6.
Alat-alat
audio-visual, video atau disket.
Setelah
semua bahan penilaian portofolio dikumpulkan, kemudian disusun dan disimpan
dalam sebuah dokumen. Dalam rangka penataan sebuah dokumen, guru hendaknya
memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Pertama, setiap dokumen harus dibuat
identitas peserta didik, seperti nama, nomor induk, kelas, dan nama sekolah.
Kedua, untuk mempennudah pengecekan isi
dokumen, maka setiap dokumen harus dibuat daftar isi dokumen.
Ketiga, isi dokumen harus dimasukkan ke
dalam satu map atau folder dan disusun secara sistematis sesuai dengan
kompetensi yang telah ditetapkan.
Keempat, isi dokumen hendaknya dikelompokkan
sesuai dengan mata pelajaran dan setiap mata pelajaran diberikan warna yang
berbeda.
Kelima, setiap isi dokumen harus ada
catatan atau komentar dari guru dan orang tua.
Keenam, isi dokumen hendaknya tidak
ditentukan sepihak oleh guru, tetapi harus melibatkan peserta didik melalui
proses diskusi. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik tidak hanya dijadikan
sebagai objek penilaian tetapi juga subjek penilaian.
Di samping itu, guru hendaknya memperhatikan
prinsip-prinsip dokumentasi portofolio, antara lain kelengkapan dan ketepatan
data, ketepatan waktu, tingkat keterbacaan, praktis, sistematis, dan relevan.
Berikut ini akan dikemukakan beberapa contoh format
penilaian portofolio.
FORMAT
PENILAIAN PORTOFOLIO PRODUK
|
No
|
Aspek-aspek
Penilaian
|
Indikator
|
Skor
|
Keterangan
|
|
01
|
Persiapan
|
I
|
|
|
|
II
|
|
|
||
|
III
|
|
|
||
|
02
|
Pembuatan
|
Umum
|
|
|
|
Modifikasi
|
|
|
||
|
Khusus
|
|
|
||
|
03
|
Komponen
Penilaian
|
Disain
|
|
|
|
Bahan
|
|
|
||
|
Kreativitas
|
|
|
||
|
|
Jumlah
skor
|
|
|
|
|
|
Nilai
|
|
|
|
|
|
Bandung,
Guru,
......................................
|
|||
Kriteria
Penilaian :
Jumlah
Skor : 91 – 100 = Sangat Memuaskan
81 – 90 = Memuaskan
71 – 80 = Baik
61 – 70 = Cukup
<60 = Kurang
FORMAT
PENILAIAN PENAMPILAN
|
No
|
Aspek-aspek
Penilaian
|
Indikator
|
Skor
|
Keterangan
|
|
01
|
Persiapan
|
Bahan
|
|
|
|
Mental
|
|
|
||
|
Fisik
|
|
|
||
|
02
|
Proses
|
Tahapan
|
|
|
|
Kerapian
|
|
|
||
|
Kerja
sama
|
|
|
||
|
03
|
Penampilan
|
Percaya
Diri
|
|
|
|
Penugasan
|
|
|
||
|
Daya
Tarik
|
|
|
||
|
|
Jumlah
skor
|
|
|
|
|
|
Nilai
|
|
|
|
|
|
Bandung,
Guru,
......................................
|
|||
FORMAI PENILAIAN LEMBAR KERJA
|
No
|
Kompetensi
|
Indikator
|
Skor
|
Keterangan
|
|
01
|
Pemahaman
Materi
|
Akurat
|
|
|
|
02
|
Sintesis
|
Tepat
|
|
|
|
03
|
Penyimpulan
|
Sesuai
|
|
|
|
04
|
Penampilan
|
Rapi dan
menarik
|
|
|
|
|
Jumlah
Skor
|
|
|
|
|
|
Nilai
|
|
|
|
|
|
Bandung,
Guru,
......................................
|
|||
FORMAT
PENILAIAN KARYA TULIS
|
No
|
Kompetensi
|
Indikator
|
Skor
|
Keterangan
|
|
01
|
Kualitas
Informasi
|
- Akurat
- Cermat
- Teliti
- Saksama
|
|
|
|
02
|
Pengorganisasian
Gagasan (masalah)
|
- Tepat
- Runtut
|
|
|
|
03
|
Kebahasaan
|
- Tata Bahasa
- Gaya Bahasa
|
|
|
|
04
|
Penampilan
|
- Rapi
- Menarik
|
|
|
|
|
Jumlah
Skor
|
|
|
|
|
|
Nilai
|
|
|
|
|
|
Bandung,
Guru,
......................................
|
|||
FORMAT
PENILAIAN PORTOFOLIO TAMPILAN
|
No
|
Aspek-aspek
Penilaian
|
Indikator
|
Skor
|
Keterangan
|
|
01
|
Isi
|
|
|
|
|
|
|
|
||
|
|
|
|
||
|
02
|
Tampilan
|
|
|
|
|
|
|
|
||
|
|
|
|
||
|
03
|
Penyampaian
|
|
|
|
|
|
|
|
||
|
|
|
|
||
|
|
Jumlah
skor
|
|
|
|
|
|
Nilai
|
|
|
|
|
|
Bandung,
Guru,
......................................
|
|||
FORMAT PENILAIAN TUGAS
TERSTRUKTUR
Nama
Siswa :
....................................................
Kelas
:
....................................................
Mata
Pelajaran :
....................................................
Jenis
Tugas : Makalah
|
No
|
Aspek-aspek Penilaian
|
Skor
|
Bobot
|
Skor X Bobot
|
|
01
|
Judul
|
|
1
|
|
|
02
|
Masalah
|
|
1
|
|
|
03
|
Metode
Penulisan
|
|
1
|
|
|
04
|
Landasan
teori
|
|
2
|
|
|
05
|
Sistematika
Penulisan
|
|
1
|
|
|
06
|
Pembahasan
|
|
2
|
|
|
07
|
Simpulan
|
|
1
|
|
|
08
|
Bahasa:
|
|
1
|
|
|
|
-
Tata
Bahasa
|
|
|
|
|
|
-
Gaya
Bahasa
|
|
|
|
|
|
Jumlah
|
|
10
|
|
Nilai
akhir = 
Catatan :
.............................................................................................................
Bandung,
Guru,
......................................
FORMAT
PENILAIAN FORMATIF DAN SUMATIF
|
Jenis Tes
|
No
|
Tanggal
|
Pokok Bahasan
|
Nilai
|
Paraf Guru
|
Keterangan
|
|
Formatif
(A)
|
01
|
|
|
|
|
|
|
02
|
|
|
|
|
|
|
|
03
|
|
|
|
|
|
|
|
dst
|
|
|
|
|
|
|
|
Jumlah
|
|
|
|
|||
|
Rata-rata
|
|
|
|
|||
|
Sumatif
(B)
|
Tanggal :
|
|
|
|
||
|
Jumlah A dan B
|
|
|
|
|||
|
Rata-rata A dan B
|
|
|
|
|||
FORMAT
REKAMAN ANEKDOT
|
No
|
Nama Siswa
|
Perilaku yang Muncul
|
Tempat dan Waktu
|
Penilaian
|
|
|
Positif
|
Negatif
|
||||
|
01
|
|
|
|
|
|
|
02
|
|
|
|
|
|
|
03
|
|
|
|
|
|
|
04
|
|
|
|
|
|
|
dst
|
|
|
|
|
|
Bandung,
Guru,
......................................
Sumber:
Arifin, Zainal, 2014. Evaluasi Pembelajaran. Bandung. PT.
Remaja Rosda Karya
trima kasih. materinya sangat bermanfaat
BalasHapussip... sangat membantu sekali
BalasHapusMakasih ii sangat bermanfaat, terutama bagi sekolah yang mau akreditasi. Kebetulan sekolah saya mau akreditasi.
BalasHapusMakasih ii sangat bermanfaat, terutama bagi sekolah yang mau akreditasi. Kebetulan sekolah saya mau akreditasi.
BalasHapus